Peluang Kredit Menguat, BNI Antisipasi Persaingan Perebutan Dana

- BNI menjalankan ekspansi kredit secara selektif melalui diversifikasi portofolio dan penguatan struktur pendanaan.
- Kredit BNI mencapai Rp968,5 triliun pada semester I-2026, tumbuh 24,4 persen secara tahunan.
- DPK tumbuh 28 persen yoy, sementara NIM bank only turun menjadi 3,6 persen pada semester I-2026.
Jakarta, FORTUNE - Asumsi ekonomi makro dan postur RAPBN saat ini dinilai masih membuka ruang bagi perbankan untuk mencatat pertumbuhan kredit yang kuat.
Namun, peluang ekspansi tersebut perbankan juga dibayangi persaingan yang semakin ketat dalam menghimpun dana. Kondisi ini berpotensi meningkatkan cost of fund dan menekan net interest margin (NIM) perbankan.
Untuk menjaga pertumbuhan kredit sekaligus mengantisipasi tekanan terhadap biaya dana dan margin, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) menerapkan strategi ekspansi secara selektif dengan memperkuat diversifikasi portofolio dan struktur pendanaan.
Corporate Secretary BNI, Okki Rushartomo, mengatakan BNI memperkuat struktur pendanaan melalui peningkatan dana murah (CASA) dan dana berbasis transaksi, disertai pengelolaan likuiditas yang berhati-hati.
"Penguatan transactional banking serta pengembangan ekosistem nasabah juga menjadi bagian dari strategi untuk membangun sumber pendanaan yang lebih stabil dan berkelanjutan," katanya kepada Fortune Indonesia, Kamis (20/8).
Strategi pendanaan tersebut sejalan dengan ekspansi kredit BNI yang tetap diarahkan secara selektif. Okki mengatakan pertumbuhan kredit perseroan ditopang oleh portofolio yang semakin terdiversifikasi di berbagai sektor ekonomi dan segmen bisnis, mulai dari korporasi, menengah, UMKM hingga konsumer.
"Penyaluran kredit difokuskan pada sektor dan ekosistem yang memiliki prospek pertumbuhan yang baik, dengan tetap mempertimbangkan profil risiko masing-masing debitur," ujar Okki.
Dengan pendekatan tersebut, ekspansi kredit dilakukan secara selektif dan terukur untuk menjaga keseimbangan antara pertumbuhan bisnis, produktivitas aset, dan kualitas portofolio.
Hingga semester I 2026, BNI telah menyalurkan kredit sebesar Rp968,5 triliun, tumbuh 24,4 persen secara tahunan atau year on year (YoY).
Sementara itu, dari sisi pendanaan, total dana pihak ketiga (DPK) BNI mencapai Rp1.100,18 triliun hingga akhir Juni 2026 atau tumbuh 28 persen yoy. Pertumbuhan DPK yang lebih tinggi dibandingkan kredit membuat BNI masih memiliki ruang likuiditas untuk menopang ekspansi intermediasi.
Di sisi lain, margin bunga bersih bank terasa masih penuh tantangan. BNI mencatat NIM bank only sebesar 3,6 persen pada semester I 2026, turun dari 3,8 persen pada periode yang sama tahun lalu.
Okki menjelaskan, perusahaan berupaya menjaga agar tetap menjaga profitabilitas. Upaya yang dilakukan, salah ssatunya dengan mengoptimalkan keseimbangan antara pertumbuhan kredit, biaya dana, dan kualitas aset melalui pengelolaan pricing, portofolio, serta manajemen risiko yang disiplin.
Alhasil, bank plat merah ini mencatatkan pertumbuhan profitabilitas dengan laba bersih sebesar Rp10,8 triliun, naik 5,94 persen YoY. BNI juga menjaga kualitas kredit juga membaik dengan rasio non performing loan (NPL) gross sebesar 1,93 persen dan NOL net di level 0,72 persen.
Ke depan, BNI akan terus mencermati perkembangan kondisi makroekonomi, dinamika likuiditas, dan persaingan funding, sehingga fungsi intermediasi dapat terus tumbuh secara sehat, prudent, dan berkelanjutan.



















