Jakarta, FORTUNE — Mayoritas masyarakat Indonesia masih cenderung membeli produk asuransi perjalanan sesaat sebelum keberangkatan (last minute), dengan 30 persen transaksi terjadi pada hari H dan 67 persen dalam rentang satu minggu sebelum bepergian. Temuan tersebut diungkapkan oleh perusahaan insurtech Asia Tenggara, Igloo, berdasarkan hasil olah data platform direct-to-consumer miliknya di Indonesia sepanjang 2025.
Riset Igloo mencatat adanya perbedaan pola antara segmen perjalanan. Wisatawan domestik rata-rata membeli polis asuransi satu hari sebelum keberangkatan. Sementara itu, wisatawan internasional cenderung membelinya rata-rata enam hari sebelum berangkat.
Co-Founder dan CEO Igloo, Raunak Mehta, menilai perilaku ini mengindikasikan proteksi belum menjadi prioritas awal dalam perencanaan perjalanan masyarakat.
"Hal ini menunjukkan bahwa customer journey harus cukup singkat untuk dipahami dan dapat diselesaikan melalui perangkat mobile hanya dalam beberapa menit,” ujar Raunak dalam keterangan resmi, Jumat (28/8).
Dari sisi pemetaan lokasi, Jepang mendominasi destinasi internasional terpopuler dengan porsi 26 persen dari total polis internasional dan rata-rata premi US$32. China dan Malaysia menyusul pada posisi berikutnya dengan masing-masing 11 persen, diikuti Singapura (10 persen) dan Thailand (9 persen).
Untuk rute domestik, Malang tampil sebagai destinasi terpopuler yang menyumbang 31 persen dari total polis, disusul Bandung dan Denpasar yang masing-masing mencatatkan porsi 15 persen.
Igloo juga mengidentifikasi perjalanan jarak jauh mencatatkan nilai premi paling tinggi. Asuransi ke Eropa memimpin dengan rata-rata premi US$50 per polis, diikuti wilayah Australia dan Pasifik sebesar US$44. Perbedaan nilai premi ini dipengaruhi terutama oleh faktor durasi, saat perjalanan internasional berlangsung rata-rata delapan hari, dibandingkan perjalanan domestik yang rata-rata tiga hari.
Terkait jenis pertanggungan, perlindungan medis menjadi prioritas utama bagi 92 persen pelanggan di berbagai destinasi. Pilihan proteksi lain yang dinilai penting mencakup perlindungan kecelakaan fatal (62 persen), keterlambatan perjalanan (61 persen), kehilangan barang pribadi (60 persen), dan keterlambatan bagasi (54 persen).
Kendati kesadaran masyarakat pascapandemi terus tumbuh, Igloo menilai penetrasi asuransi perjalanan di Indonesia masih tergolong rendah dibandingkan dengan negara lain. Kondisi ini dipengaruhi oleh sejumlah hambatan struktural dan user experience, seperti minimnya panduan bagi pengguna dalam memilih produk dari berbagai penyedia, hingga keterbatasan akses di luar jam operasional.
