Jakarta, FORTUNE – PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) bersalin rupa. Tak lagi sekadar menjadi 'juru bayar' cicilan rumah, bank pelat merah ini mulai menggaungkan ambisi barunya: menjadi mitra utama dalam pemberdayaan keuangan keluarga. Strategi itu sepertinya diambil sebagai bagian dari transformasi bisnis yang dikristalkan lewat pertumbuhan laba bersih senilai Rp3,5 triliun sepanjang 2025.
Performa moncer tersebut tumbuh 16,4 persen secara tahunan (year-on-year), disokong oleh kenaikan pendapatan bunga sebesar 23 persen yang menyentuh Rp36,3 triliun. Di balik angka-angka tersebut, terdapat langkah besar bertajuk beyond mortgage yang kini tengah dipacu oleh manajemen.
Dalam sebuah acara bincang-bincang di Ballroom Menara 1 BTN, Jakarta, Jumat (13/3), Direktur Operations BTN, I Nyoman Sugiri Yasa, menegaskan transformasi ini merupakan komitmen untuk periode 2025–2029.
"Kami akan mengubah image itu bahwa bank BTN bisa memberikan layanan full banking services. Artinya kalau finansial keluarga itu, ada pembiayaan, investasi, transaksi, dan segala macam kebutuhan perbankan lainnya. Apalagi di era digital sekarang ini," kata Nyoman.
Untuk memuluskannya, BTN tidak segan-segan merogoh kocek cukup dalam. Anggaran belanja modal atau capital expenditure (capex) senilai Rp1,1 triliun telah direalisasikan untuk memoles infrastruktur fisik.
Hasilnya, sepanjang 2025, ada 20 kantor cabang baru dibuka, 29 cabang direlokasi, dan 10 cabang lainnya mendapatkan sentuhan penataan ulang (re-layout) agar tampil lebih modern. Hingga kini, urat nadi bisnis BTN ditopang oleh 850 outlet cabang yang tersebar di seantero Nusantara.
Strategi yang diusung pun kian tajam melalui holistic banking proposition. BTN tidak lagi hanya setia pada sektor pembiayaan perumahan (KPR). Bank ini mulai merambah ceruk pasar yang lebih luas, mulai dari layanan payroll, kartu kredit, investasi, hingga Kredit Ringan (KRING) BTN untuk renovasi rumah.
Bahkan, pembiayaan kendaraan bermotor hingga kredit modal kerja kini masuk dalam menu layanannya.
Logika bisnisnya sederhana: memanfaatkan ekosistem nasabah KPR yang sudah ada untuk strategi cross selling.
"Ketika nasabah membeli rumah melalui KPR, mereka juga berpotensi membutuhkan produk finansial lainnya. Melalui strategi ini, BTN dapat menyediakan beragam solusi keuangan yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia," ujar Nyoman.
