Comscore Tracker
FINANCE

BI Ungkap Tantangan Global Berpotensi Multi Krisis

Siklus kenaikan bunga The Fed diyakini lebih panjang.

BI Ungkap Tantangan Global Berpotensi Multi KrisisIlustrasi resesi ekonomi global. (Pixabay/Elchinator)

by Suheriadi

Jakarta, FORTUNE - Bank Indonesia (BI) memandang perekonomian global  di tahun 2023 masih berisiko tumbuh lebih rendah dibandingkan tahun 2022. Hal tersebut disebabkan oleh berbagai faktor geopolitik dan ketidakpastian ekonomi. 

Deputi Gubernur BI, Dody Budi Waluyo bahkan menyatakan, saat ini dunia telah menghadapi multi krisis dan perlu diwaspadai oleh berbagai negara termasuk Indonesia. 

"Sekarang geopolitik sudah menimbulkan yang disebut sebagai multi-crisis, tidak saja pandemi yang belum berakhir ditambah lagi konteks bagaimana krisis ekonomi menuju resesi yang sudah dinyatakan oleh beberapa negara," kata Dody saat acara Flagship Event Diseminasi Laporan Nusantara serta Launching Buku Kajian Manufaktur dan Pariwisata, Jumat (18/11). 

Dody menyampaikan, perlambatan ekonomi global dipengaruhi berlanjutnya tensi geopolitik yang memicu fragmentasi ekonomi, perdagangan dan investasi, serta dampak dari masih berlanjutnya pengetatan kebijakan moneter. 

Siklus kenaikan bunga The Fed diyakini lebih panjang

Tak hanya itu, kenaikan Fed Fund Rate diprakirakan juga akan lebih tinggi dengan siklus yang lebih panjang. Hal ini mendorong semakin kuatnya mata uang dolar AS dan semakin tingginya ketidakpastian di pasar keuangan global. 

"Hal ini memberikan tekanan pada aliran investasi portofolio dan tekanan nilai tukar di berbagai negara, termasuk Indonesia," kata Dody. 

Seperti diketahui, Federal Reserve (The Fed) telah menaikkan suku bunga acuannya sebesar 75 basis poin menjadi 3,75 persen - 4 persen pada Kamis (3/11). Sehingga, suku bunga The Fed kini berada di level tertinggi sejak Januari 2008. 

Kenaikan inflasi masih membayangi

Sementara itu, BI menilai tekanan inflasi IHK dan inflasi inti global masih tinggi sejalan dengan terus berlanjutnya gangguan rantai pasokan dan keketatan pasar tenaga kerja terutama di AS dan Eropa. 

Dody menyebut, inflasi di negara maju maupun emerging market meningkat, bahkan inflasi inti berada dalam tren meningkat sehingga mendorong bank sentral di banyak negara menempuh kebijakan moneter yang lebih agresif 

"Salah satu hal yang perlu menjadi perhatian adalah tekanan inflasi yang sempat meningkat mulai menunjukkan penurunan dan lebih rendah dari prakiraan awal," kata Dody. 

Pada Oktober 2022, inflasi IHK Indonesia secara tahunan tercatat 5,71 persen (yoy), lebih rendah dari prakiraan awal maupun inflasi IHK sebelumnya yang mencapai 5,95% (yoy). Selanjutnya, inflasi kelompok volatile food tercatat lebih rendah dari sebelumnya menjadi 7,19 persen (yoy), terutama dipengaruhi oleh penurunan harga sejumlah komoditas hortukultura seiring dengan kondisi pasokan yang cukup. 

Related Articles