Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Survei BI Ungkap Penjualan Eceran Hanya Tumbuh 1,1 Persen, Ini Penyebabnya
ilustrasi sepasang suami istri sedang memilih keranjang anyaman di toko ritel (pexels.com/AI25.Studio Studio)
  • Penjualan eceran Juli 2026 tumbuh tipis 1,1 persen secara tahunan, membaik dari kontraksi Juni, tetapi turun 0,1 persen secara bulanan akibat normalisasi permintaan pasca-HBKN dan libur sekolah.
  • Mayoritas kota mencatat kenaikan, dipimpin Manado 22,3 persen, Medan 14,3 persen, dan Bandung 9,1 persen secara tahunan. BI memperkirakan IPR Agustus tumbuh 0,5 persen.
  • Ekspektasi penjualan Oktober 2026 dan Januari 2027 menurun, dipengaruhi normalisasi konsumsi pasca-Natal. BI juga memperkirakan tekanan inflasi pada kedua periode tersebut melandai.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Juni 2026

Penjualan eceran mengalami kontraksi sebesar 3,0 persen secara tahunan.

Juli 2026

IPR naik 1,1 persen secara tahunan. Secara bulanan, penjualan eceran terkontraksi 0,1 persen.

Agustus 2026

IPR diprakirakan mencapai 224,6 dan tumbuh 0,5 persen secara tahunan.

Oktober 2026

Responden memprakirakan penjualan eceran masih dalam tren menurun. IEP Oktober turun menjadi 143,9.

Desember 2026

IEP tercatat sebesar 171,6 sebagai pembanding untuk IEP Januari 2027.

Januari 2027

IEP diproyeksikan turun menjadi 158,0. Penurunan dipengaruhi normalisasi pasca HBKN Natal.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Indeks Penjualan Riil naik 1,1 persen secara tahunan hingga Juli 2026, tetapi penjualan eceran turun 0,1 persen secara bulanan.
  • Who?
    Bank Indonesia dan Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso.
  • Where?
    Jakarta; pertumbuhan penjualan eceran juga tercatat di Medan, Bandung, dan Manado.
  • When?
    Hingga Juli 2026, dengan proyeksi untuk Agustus 2026, Oktober 2026, dan Januari 2027.
  • Why?
    Penurunan bulanan Juli dipengaruhi normalisasi permintaan pasca Hari Besar Keagamaan Nasional dan libur sekolah.
  • How?
    Kinerja diukur melalui Indeks Penjualan Riil; Agustus ditopang suku cadang dan aksesori serta makanan, minuman, dan tembakau.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bank Indonesia melihat toko-toko menjual lebih banyak sedikit pada Juli 2026, yaitu 1,1 persen. Ramdan Denny Prakoso dari BI bilang penjualan bulanannya malah turun 0,1 persen setelah hari besar dan libur sekolah. Pada Agustus, penjualan diprakirakan tetap tumbuh. Namun, untuk Oktober dan Januari, responden memperkirakan penjualan menurun.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pertumbuhan penjualan eceran di mayoritas kota menunjukkan perbaikan, dengan Medan, Bandung, dan Manado mencatat kenaikan tahunan. Proyeksi IPR Agustus 2026 yang tetap tumbuh juga ditopang kelompok suku cadang dan aksesori serta makanan, minuman, dan tembakau. Sejumlah kelompok lain turut membaik meski masih berada dalam fase kontraksi.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, FORTUNE – Kinerja penjualan eceran domestik pada Juli 2026 mencatatkan pemulihan terbatas. Bank Indonesia (BI) merekam Indeks Penjualan Riil (IPR) tumbuh 1,1 persen secara tahunan (YoY). Capaian ini membaik dibandingkan Juni 2026 yang sempat menciut 3,0 persen (YoY).

Meski membaik secara tahunan, penjualan eceran bulanan justru terkoreksi. Realisasi Juli 2026 terkontraksi 0,1 persen (MtM).

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan penurunan bulanan tersebut dipicu oleh pola musiman konsumsi masyarakat.

“Penurunan secara bulanan dipengaruhi oleh normalisasi permintaan pasca periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) dan libur sekolah,” kata Ramdan melalui keterangan resmi di Jakarta, Jumat (11/9).

Secara spasial, mayoritas kota mencatat kenaikan penjualan eceran. Pertumbuhan tertinggi terjadi di Manado dengan indeks 187,6 atau melonjak 22,3 persen (YoY). Medan menyusul dengan indeks 376,3 (tumbuh 14,3 persen (YoY), serta Bandung dengan indeks 149,9 (tumbuh 9,1 persen (YoY).

Memasuki Agustus 2026, BI memperkirakan IPR tetap tumbuh pada level 224,6, atau naik 0,5 persen (YoY). Penjualan suku cadang dan aksesori menjadi penopang utama dengan indeks 150,0 (tumbuh 10,1 persen (YoY). Kelompok makanan, minuman, dan tembakau turut mendukung dengan indeks 317,6 (tumbuh 0,7 persen (YoY).

“Di sisi lain, beberapa kelompok mengalami perbaikan kinerja meskipun masih dalam fase kontraksi terutama pada kelompok peralatan informasi dan komunikasi terkontraksi 1,7 persen (YoY) serta kelompok barang budaya dan rekreasi terkontraksi 1,2 persen (YoY),” ujar Ramdan.

Prospek penjualan eceran diperkirakan kembali melambat. Responden survei BI memproyeksikan Indeks Ekspektasi Penjualan (IEP) Oktober 2026 dan Januari 2027 berada dalam tren menurun.

IEP Oktober 2026 melorot ke angka 143,9 dari posisi sebelumnya 148,3. IEP Januari 2027 juga turun ke level 158,0 dibandingkan dengan periode Desember 2026 yang sebesar 171,6. Penurunan ekspektasi pada awal tahun depan terdorong oleh normalisasi konsumsi pasca-HBKN Natal.

“Hal ini dipengaruhi dari sisi harga, tekanan inflasi pada Oktober 2026 dan Januari 2027 diprakirakan menurun,” ujar Ramdan.

Editorial Team

Related Article