Jakarta, FORTUNE – PT Bank OCBC NISP Tbk (OCBC) menyatakan optimistis penyaluran kredit dan dana pihak ketiga (DPK) masih dapat tumbuh di tengah volatilitas nilai tukar rupiah yang masih tinggi akibat gejolak perekonomian global.
Per Kamis (9/4), nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mencapai Rp17.092.
Direktur OCBC, Martin Widjaja, menjelaskan komposisi dari kredit valuta asing (valas) OCBC sudah lebih moderat dan mengalami penurunan akibat banyaknya nasabah korporasi yang melakukan transaksi dengan rupiah. Untuk itu, Ia memastikan gejolak ini tidak begitu besar berdampak ke bisnis bank.
“Komposisi kredit valas kita selama dua hingga tiga tahun terakhir sudah banyak penurunan. Karena banyak sekali korporasi yang lebih memilih untuk meminjam dalam bentuk rupiah. Dari sisi portfolio, exposure terhadap volatilitas US dollar itu sudah sangat terjaga hari ini,” ujar Martin dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (9/4).
Pertumbuhan ekonomi nasional yang stabil pada level 5,11 persen hingga 2025 diyakini menjadi bantalan kuat pertumbuhan kredit perbankan. Untuk itu, Martin percaya kredit OCBC masih dapat tumbuh pada 2026.
Sebagai konteks, penyaluran kredit OCBC hanya tumbuh 2 persen (YoY) menjadi Rp173,4 triliun sepanjang 2025. Meski demikian, kualitas kredit terus dijaga dengan rasio NPL Gross terkendali pada level 1,9 persen.
“Kita akan expect (pertumbuhan kredit) mungkin high single digit dari beberapa sektor yang memang membutuhkan kredit termasuk dalam bentuk valas,” kata Martin.
Di sisi lain, Direktur OCBC, Hartati, menyatakan pertumbuhan DPK bank ke depan masih akan kuat. Hal ini terlihat dari realisasi kenaikan DPK OCBC yang mencapai 18 persen (YoY) menjadi Rp243,5 triliun pada 2025.
Pertumbuhan dana pihak ketiga ini, lanjut Hartati, didukung oleh pertumbuhan giro dan tabungan atau dana murah yang meningkat 24 persen. Dengan demikian, rasio CASA terhadap DPK OCBC mencapai 58 persen pada 2025.
“Proyeksi pertumbuhan DPK di tahun ini kita perkirakan bisa low double digit,” kata Hartati.
