Vulnerability Gap Bayangi Keuangan Keluarga, Ini Penyebabnya

Keluarga mapan rentan terhadap vulnerability gap
Pendapatan premi Sun Life capai Rp 2,09 triliun di Oktober 2025
Tiga penyebab vulnerability gap dan antisipasinya
Jakarta, FORTUNE – Keluarga yang terlihat mapan seperti memiliki rumah layak, pendidikan baik hingga gaya hidup yang stabil belum tentu memiliki finansial keluarga yang aman. Di balik stabilitas tersebut, ada vulnerability gap atau celah kerentanan yang justru tidak banyak disadari dan masih membayangi finansial keluarga. Celah ini muncul karena kemapanan sering dianggap setara dengan keamanan, padahal keduanya tidak selalu berjalan beriringan.
Chief of Marketing Sun Life Indonesia, Maika Randini menilai, semakin mapan sebuah keluarga, semakin kompleks risiko yang dihadapi. Risiko finansial yang lebih besar, ketergantungan pada penghasilan utama, gaya hidup yang tinggi, hingga pengelolaan aset lintas generasi menjadi tantangan tersendiri.
“Tanpa strategi perlindungan yang tepat, kemapanan ini bisa rentan terhadap perubahan yang tidak terduga,” kata Maika melalui keterangan resmi di Jakarta, (21/12).
Pendapatan premi Sun Life capai Rp 2,09 triliun di Oktober 2025

Berdasarkan data Financial Resilience Index Sun Life Indonesia 2025, sebanyak 71 persen keluarga Indonesia memiliki tekad dan aspirasi yang untuk membangun kekayaan keluarga. Namun masih banyak tantangan yang membuat peningkatan kekayaan sulit tercapai.
Maika Randini menambahkan, penggunaan asuransi bisa menjadi opsi bantalan untuk mengantisipasi berbagai risiko yang bisa mengganggu keuangan keluarga. Namun demikian, masyarakat juga harus memilah dan menyoroti kinerja dan stabilitas dari asuransi saat memilih.
Berdasarkan laporan keuangannya, Sun Life Indonesia masih mencatat pertumbuhan pendapatan premi neto per Oktober 2025 dengan nilai sebesar Rp 2,09 triliun. Naik bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2024 sebesar Rp 1,95 triliun. Bahkan, perusahaan asuransi ini memiliki rasio pencapaian solvabilitas sebesar 515 persen
Sun Life Indonesia ungkap tiga penyebab vulnerability gap dan antisipasinya

Sun Life Indonesia juga mengungkapkan tiga penyebab utama tingginya vulnerability gap pada keluarga di Indonesia:
1. Ketergantungan pada satu figur high performer
Banyak keluarga Indonesia yang bergantung pada satu pencari nafkah utama. Ketika pendapatan keluarga bertumpu pada satu figur, risiko finansial meningkat signifikan. Jika sesuatu terjadi pada pencari nafkah ini, bukan hanya stabilitas finansial yang terganggu, tetapi juga keberlangsungan kehidupan keluarga, bahkan rencana jangka panjang anak-anak.
Dalam banyak kasus, keluarga belum menyiapkan perlindungan memadai untuk memastikan pengganti penghasilan (income replacement) yang setara dengan standar hidup mereka. Untuk itu, diharapkan setiap keluarga memiliki dua sumber utama nafkah agar dapat mengantisipasi vulnerability gap. Penggunaan asuransi jiwa juga bisa berperan sebagai pengganti penghasilan ketika pencari nafkah utama mengalami risiko meninggal dunia. Produk seperti Sun Prosperity Prime (Si Super) menawarkan proses pengajuan praktis tanpa pemeriksaan kesehatan dan manfaat tunai tahunan sejak tahun pertama, membantu menjaga stabilitas cashflow keluarga.
2. Gaya hidup yang meningkat tanpa diiringi penghasilan
Keluarga yang mapan umumnya memiliki cost of living yang tinggi, seperti biaya sekolah premium, cicilan aset besar, perjalanan rutin, hingga lifestyle maintenance. Semua ini membuat kebutuhan dana darurat dan perlindungan finansial harus proporsional dengan standar hidup tersebut.
Namun kenyataannya, banyak keluarga belum mengukur “biaya hidup sebenarnya.” Akibatnya, ketika risiko terjadi, keluarga langsung merasa tertekan karena cadangan dana maupun proteksi yang ada tidak cukup menutup kebutuhan gaya hidup yang sudah terlanjur tinggi.
3. Aset banyak, namun tidak likuid
Kemapanan biasanya tercermin dari aset: properti, bisnis keluarga, investasi jangka panjang. Namun sebagian besar aset tersebut bersifat tidak likuid—tidak bisa langsung dicairkan ketika ada kebutuhan mendesak. Proses balik nama properti, likuidasi bisnis, atau penjualan aset membutuhkan waktu panjang dan biaya administrasi yang tidak sedikit.
Inilah salah satu penyebab mengapa keluarga mapan tetap rentan saat menghadapi risiko tidak terduga, karena kekayaan tidak selalu berarti ketersediaan dana siap pakai. Untuk keluarga dengan aset besar dan tidak likuid, produk seperti Sun Proteksi Waris juga dapat menjadi instrumen yang efektif sebagai aset likuid yang langsung dapat digunakan ahli waris. Asuransi jiwa tidak dikenakan pajak, memiliki manfaat yang jelas, serta membebaskan keluarga dari proses administratif warisan yang panjang.



















