Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Bitcoin Berpotensi Tertekan usai The Fed Tahan Suku Bunga
ilustrasi crypto bitcoin, kripto (pexels.com/DS stories)
  • The Fed mempertahankan suku bunga di 3,75–4 persen dengan suara 10 banding 2, sambil menilai inflasi masih tinggi dan membutuhkan data tambahan menuju target 2 persen.
  • Nada hawkish The Fed memicu ekspektasi kenaikan suku bunga; CME FedWatch mencatat peluang kenaikan minimal 25 bps pada Desember 2026 sebesar 78,4 persen.
  • Suku bunga tinggi berpotensi menekan Bitcoin karena alternatif investasi berisiko rendah menawarkan imbal hasil mendekati 4 persen, sementara Treasury, dolar, sentimen risiko, PCE, dan laba teknologi turut menentukan arah pasar.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, FORTUNE – Pergerakan Bitcoin (BTC) berpotensi menghadapi tekanan setelah bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (The Fed), memutuskan mempertahankan suku bunga acuannya. Kekhawatiran terhadap inflasi yang belum mereda turut memunculkan sinyal bahwa kebijakan moneter ketat masih dapat berlanjut.

Melansir Cointelegraph, The Fed mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran 3,75 persen sampai 4 persen. Keputusan tersebut disepakati melalui pemungutan suara dengan hasil 10 banding dua. Dua pejabat, yakni anggota Dewan Gubernur Lisa Cook dan Presiden The Fed wilayah Cleveland Beth Hammack, menginginkan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps).

Dalam pernyataan resminya pada 28 Oktober 2026, Federal Open Market Committee (FOMC) menyebut inflasi masih berada pada level tinggi. Bank sentral juga menilai perlu mengumpulkan lebih banyak informasi sebelum menentukan arah kebijakan berikutnya demi mengembalikan inflasi ke target 2 persen.

Ketua The Fed, Kevin Warsh, mengakui inflasi AS belum berhasil kembali ke sasaran yang ditetapkan bank sentral. "Masyarakat Amerika Serikat masih harus menghadapi inflasi yang telah berada di atas target Komite selama hampir enam tahun. Sudah menjadi tanggung jawab kami untuk menurunkan inflasi tersebut," katanya.

Kepala Investasi platform tokenisasi Theo, Iggy Ioppe, menilai keputusan mempertahankan suku bunga sebenarnya telah diantisipasi oleh pasar. Namun, investor belum sepenuhnya memperhitungkan nada hawkish atau kecenderungan The Fed untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat.

"Pasar memang sudah memperhitungkan keputusan untuk mempertahankan suku bunga, tetapi tidak memperhitungkan nada hawkish tersebut,” kata dia.

Sikap tersebut membuat pelaku pasar mulai memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga dalam pertemuan The Fed berikutnya pada 8–9 Desember 2026. Berdasarkan data CME FedWatch pada Rabu (28/10), probabilitas kenaikan setidaknya 25 bps pada pertemuan Desember mencapai 78,4 persen. Sementara itu, peluang kenaikan hingga Maret 2027 tercatat sebesar 67,3 persen.

Meski demikian, Warsh enggan memberikan petunjuk mengenai kemungkinan perubahan suku bunga pada akhir tahun ini.

"Banyak hal bisa terjadi, jadi saya tidak bisa membagikan pemikiran saya mengenai apa yang akan terjadi saat kelompok ini berkumpul enam minggu lagi," kata dia dalam sebuah konferensi pers.

Suku bunga yang bertahan tinggi juga dapat mengurangi daya tarik aset berisiko seperti Bitcoin. Ioppe menjelaskan, investor kini memiliki alternatif instrumen investasi dengan risiko lebih rendah yang menawarkan imbal hasil mendekati 4 persen.

Di sisi lain, analis Bitget Lewis Huang berpandangan bahwa arah Bitcoin dalam waktu dekat tidak hanya ditentukan oleh keputusan suku bunga The Fed. Imbal hasil obligasi pemerintah AS atau Treasury yields, pergerakan dolar AS, serta sentimen risiko investor juga berpotensi memengaruhi harga aset kripto tersebut.

“Dengan minimnya arah kebijakan baru dari The Fed, kinerja Bitcoin dalam jangka pendek mungkin akan lebih bergantung pada imbal hasil Treasury, pergerakan dolar, dan sentimen risiko secara umum,” kata Huang.

Para analis, termasuk Huang, kini mencermati sejumlah indikator ekonomi yang dapat memberikan gambaran mengenai arah pasar aset berisiko. Salah satunya adalah laporan inflasi berdasarkan indeks pengeluaran konsumsi pribadi atau Personal Consumption Expenditures (PCE). Selain itu, laporan kinerja keuangan perusahaan teknologi besar juga menjadi perhatian investor.

Pandangan serupa disampaikan Chief Investment Officer Sygnum Bank, Fabian Dori. Menurut dia, perkembangan pasar dalam beberapa hari ke depan akan dipengaruhi oleh rilis data inflasi PCE dan laporan kinerja perusahaan teknologi.

“Laporan laba dari berbagai perusahaan dalam kelompok ‘Mag 7’ (tujuh perusahaan teknologi raksasa) minggu ini akan membantu memperjelas apakah belanja modal (capex) di sektor kecerdasan buatan (AI) sudah mulai menghasilkan pendapatan. Setelah katalis jangka pendek ini, kondisi likuiditas dan keuangan secara lebih luas kemungkinan besar akan menentukan arah menuju keputusan di Desember,” katanya, menambahkan.

Curated For You

Editorial Team

Related Article