Laba Bersih Astra (ASII) Turun 12 Persen Jadi Rp21,6 Triliun

Astra membukukan laba bersih Rp21,6 triliun hingga September 2026, turun 12 persen secara tahunan, pendapatan konsolidasi relatif stagnan di Rp243,87 triliun.
Otomotif dan jasa keuangan menjadi penopang, dengan laba masing-masing naik 8 persen.
Laba segmen pertambangan dan alat berat merosot 59 persen menjadi Rp2,9 triliun setelah pos nonberulang.
Jakarta, FORTUNE — PT Astra International Tbk (ASII) mencatatkan laba bersih Rp21,6 triliun hingga September 2026. Angka tersebut turun 12 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp24,47 triliun. Sementara itu, pendapatan bersih konsolidasi perseroan relatif stagnan di level Rp243,87 triliun.
Penurunan laba bersih Astra terutama dipengaruhi pos nonberulang (non-recurring items) senilai Rp2,96 triliun. Tanpa memperhitungkan pos tersebut, laba bersih perseroan mencapai Rp24,56 triliun atau hanya turun 1 persen secara tahunan. Sejalan dengan penurunan laba bersih, laba per saham Astra menyusut dari Rp605 menjadi Rp541.
Table of Content
Laba bisnis otomotif dan jasa keuangan Astra tumbuh positif
Bisnis otomotif menjadi salah satu penopang kinerja Astra sepanjang sembilan bulan pertama 2026. Segmen ini membukukan laba bersih Rp9,78 triliun, meningkat 8 persen secara tahunan karena didorong pertumbuhan penjualan kendaraan dan kontribusi bisnis komponen.
Secara nasional, penjualan mobil meningkat 21 persen menjadi 679.000 unit. Namun, pertumbuhan penjualan mobil Astra lebih rendah, yakni 13 persen. Meski demikian, Astra tetap menguasai 49 persen pangsa pasar mobil nasional, dengan Toyota dan Daihatsu sebagai merek utama.
Di segmen roda dua, penjualan sepeda motor nasional tumbuh 4 persen menjadi 5 juta unit. Penjualan sepeda motor Honda meningkat 3 persen dengan pangsa pasar yang bertahan di level 77 persen. Sementara itu, laba bersih bisnis komponen otomotif Astra naik 15 persen menjadi Rp1,4 triliun.
Selain otomotif, segmen jasa keuangan mencatatkan kenaikan laba bersih sebesar 6 persen menjadi Rp7,15 triliun. Pertumbuhan ini diikuti peningkatan piutang pembiayaan bersih sebesar 6 persen dibandingkan Desember 2025 menjadi Rp132 triliun. Nilai pembiayaan baru juga tumbuh 8 persen menjadi Rp92,5 triliun.
Dari bisnis pembiayaan, perusahaan pembiayaan sepeda motor menyumbang laba bersih Rp3,6 triliun, naik 4 persen secara tahunan. Kontribusi perusahaan pembiayaan mobil meningkat 6 persen menjadi Rp1,9 triliun.
Sementara itu, bisnis asuransi Grup Astra membukukan laba bersih Rp1,4 triliun. Laba tumbuh 9 persen berkat peningkatan pendapatan operasional dan investasi.
Laba bisnis pertambangan dan alat berat Astra turun 59 persen
Berbeda dari otomotif dan jasa keuangan, bisnis Solusi Pertambangan dan Alat Berat masih menghadapi tekanan. Laba bersih segmen ini sebelum pos nonberulang turun 28 persen menjadi Rp5,06 triliun hingga September 2026.
Astra mengaitkan penurunan tersebut dengan berkurangnya penjualan emas dari tambang Martabe yang sempat menghentikan produksi pada awal tahun. Selain itu, penurunan kuota produksi batu bara nasional melalui alokasi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) menekan permintaan alat berat dan jasa penambangan serta mengurangi volume penjualan batu bara.
Dampaknya terlihat pada penjualan alat berat Komatsu turun 17 persen menjadi 3.000 unit. Penjualan batu bara juga menyusut 23 persen menjadi 7,1 juta ton. Tak hanya itu, penjualan emas turun menjadi 54.000 ons dari 178.000 ons pada periode yang sama tahun lalu.
Segmen ini membukukan pos nonberulang Rp2,2 triliun pada divisi panas bumi dan nikel. Setelah memperhitungkan pos tersebut, laba bersih yang dilaporkan merosot 59 persen menjadi Rp2,9 triliun.
Meski demikian, kinerja segmen pada kuartal III-2026 tumbuh 15 persen secara tahunan. Ini beriringan dengan peningkatan volume kontrak pertambangan dan dimulainya kembali produksi Martabe.
Laba bisnis lain Astra tumbuh 36 persen, ditopang agribisnis
Segmen lain-lain, yang mencakup bisnis wider businesses Astra, membukukan laba bersih sebelum pos nonberulang sebesar Rp2,6 triliun. Angka tersebut meningkat 36 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Pertumbuhan terutama berasal dari bisnis agribisnis yang didukung kenaikan harga dan produktivitas. Divisi properti juga mencatat kontribusi dari platform pergudangan industri yang baru diakuisisi.
Namun, segmen ini turut mencatat pos nonberulang Rp766 miliar, khususnya akibat kerugian penyesuaian nilai wajar investasi ekuitas. Setelah memperhitungkan pos tersebut, laba bersih yang dilaporkan mencapai Rp1,8 triliun, naik 7 persen.
Astra lanjutkan program buyback saham
Di tengah perbedaan kinerja antarsegmen bisnis, Astra melanjutkan strategi alokasi modal melalui pembelian kembali saham (buyback) dan penawaran tender sukarela.
Sepanjang November 2025 hingga September 2026, Grup Astra telah menyelesaikan buyback senilai Rp10 triliun. Saat ini, perseroan masih menjalankan program serupa dengan nilai maksimal Rp8 triliun.
Langkah tersebut juga dilakukan sejumlah anak usaha Astra. Pada Oktober 2026, United Tractors mengumumkan rencana buyback saham hingga Rp2 triliun. Astra Agro Lestari juga mengalokasikan dana maksimal Rp400 miliar.
Selain buyback, Astra menggelar penawaran tender sukarela untuk membeli maksimal 4,95 persen saham Astra Otoparts dengan harga Rp3.600 per saham. Penawaran berlangsung pada 13 Oktober hingga 11 November 2026 dengan nilai transaksi maksimal sekitar Rp858 miliar.
Apabila seluruh saham yang ditawarkan berhasil dibeli, kepemilikan Astra di Astra Otoparts akan meningkat dari 80 persen menjadi 84,95 persen.
FAQ seputar laba ASII
Berapa laba bersih ASII hingga September 2026? Astra membukukan laba bersih Rp21,6 triliun, turun 12 persen secara tahunan.
Berapa laba bersih ASII sebelum pos nonberulang? Laba bersih sebelum pos nonberulang mencapai Rp24,56 triliun.
Segmen apa yang mencatat pertumbuhan laba? Segmen otomotif, jasa keuangan, dan lain-lain mencatat pertumbuhan laba sebelum pos nonberulang.
Berapa nilai penawaran tender sukarela Astra Otoparts? Nilai maksimal penawaran tender mencapai sekitar Rp858 miliar.













