Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
For
You

Di Tengah Kabar Akuisisi oleh Singapura, Saham SPRE Digembok BEI

akuisisi adalah
ilustrasi akuisisi (unsplash/mina rad)
Intinya sih...
  • Rencana akuisisi diarahkan ke 27,83 persen saham SPRE milik pengendali perseroan.
  • Saiko Consultancy akan menjadi pengendali baru setelah transaksi rampung.
  • Pada perdagangan hari ini, BEI menghentikan sementara perdagangan SPRE.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, FORTUNE - Bursa Efek Indonesia (BEI) menghentikan sementara perdagangan saham emiten produsen perlengkapan tidur, PT Soraya Berjaya Indonesia Tbk (SPRE), pada perdagangan hari ini, Selasa (20/1). Langkah ini diambil otoritas bursa menyusul lonjakan harga saham yang signifikan di tengah kabar rencana akuisisi perseroan.

Kepala Divisi Pengawasan Transaksi BEI, Yulianto Aji Sadono, menjelaskan suspensi dilakukan di Pasar Reguler dan Pasar Tunai untuk "mendinginkan" pasar akibat pergerakan harga yang tidak wajar.

“PT Bursa Efek Indonesia memandang perlu untuk melakukan penghentian sementara perdagangan saham PT Soraya Berjaya Indonesia Tbk (SPRE) mulai sesi I tanggal 20 Januari 2026 sampai dengan pengumuman Bursa lebih lanjut,” ujar Yulianto, dikutip Selasa (20/1).

Data perdagangan menunjukkan kenaikan harga SPRE yang luar biasa sebelum gembok suspensi dipasang. Dalam satu bulan terakhir, saham SPRE telah melonjak 185 poin atau 108,19 persen.

Bahkan, dalam lima hari perdagangan terakhir saja, saham ini melesat 31,85 persen (86 poin) ke level Rp356.

Sentimen utama yang menggerakkan harga saham SPRE disinyalir berasal dari aksi korporasi besar. Manajemen SPRE mengumumkan bahwa perusahaan asal Singapura, Saiko Consultancy Pte. Ltd., berencana mengakuisisi 27,83 persen saham perseroan.

Saham tersebut akan dibeli dari pengendali perseroan saat ini, Rizet Ramawi. Meski nilai dan jadwal transaksi masih dalam tahap negosiasi, Saiko Consultancy dipastikan akan menjadi pengendali baru SPRE setelah transaksi rampung.

Konsekuensinya, investor Singapura yang bergerak pada bidang jasa konsultasi manajemen ini wajib melaksanakan penawaran tender kepada pemegang saham publik sesuai regulasi OJK.

“Pelaksanaan rencana pengambilalihan maupun penawaran tender wajib akan dijalankan dengan tunduk pada seluruh peraturan perundang-undangan yang berlaku, termasuk regulasi di bidang pasar modal,” ujar Direktur Saiko Consultancy Pte. Ltd., Mark Leong Kei Wei.

Ia menegaskan pihaknya saat ini belum memiliki saham perseroan, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Di sisi fundamental, SPRE—yang mengoperasikan dua pabrik serta enam gerai di Padang dan Pekanbaru—menunjukkan kinerja yang tumbuh positif.

Berdasarkan laporan keuangan kuartal III-2025, perseroan membukukan pendapatan Rp37,03 miliar, naik dari Rp34,78 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Laba bersih pun terkerek menjadi Rp1,76 miliar dibandingkan Rp1,69 miliar pada kuartal III-2024.

Rizet Ramawi masih menjabat sebagai direktur utama sekaligus pemegang saham pengendali dengan porsi 27,83 persen. Pemegang saham besar lainnya meliputi PT Galaksi Investama Corpora (17,50 persen), Ridho Ferman Shatrio (14,18 persen), dan Dwi Rista Utami (7,18 persen).

Share
Topics
Editorial Team
Bonardo Maulana
EditorBonardo Maulana
Follow Us

Latest in Market

See More

Bakrie & Brothers (BNBR) Siap Rights Issue Masif Jelang RUPSLB

20 Jan 2026, 14:49 WIBMarket