Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
GOTO Keluar dari MSCI Global Standard, Ini Penjelasan Manajemen
Morgan Stanley Capital International (MSCI) (msci.com)
  • MSCI mengeluarkan GOTO dari Global Standard Index efektif 1 September 2026; manajemen menyebut keputusan teknis dipicu harga saham Rp50 dan volume perdagangan rendah, bukan kinerja perseroan.
  • GOTO mencatat laba bersih Rp252 miliar, pendapatan bersih Rp5,7 triliun, serta EBITDA disesuaikan Rp1 triliun pada kuartal II 2026 dan tetap mengejar target tahunan.
  • Analis menilai perubahan indeks berkaitan dengan ukuran, free float, likuiditas, dan investability; keluarnya saham dapat memicu penyesuaian portofolio investor institusi serta menyoroti kualitas likuiditas pasar Indonesia.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, FORTUNE - PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) menanggapi hasil evaluasi indeks MSCI periode Agustus 2026, yang mengeluarkan sahamnya dari kategori MSCI Global Standard.

Head of Corporate Affairs GoTo, Audrey Petriny, mengatakan, perseroan memperhatikan keputusan MSCI terkait eksklusi GoTo dari indeks tersebut. Perseroan pun menyadari hal itu merupakan kabar yang kurang menyenangkan bagi banyak pemegang sahamnya.

"Keputusan ini murni bersifat teknis, menyusul harga saham GoTo yang berada di level terendah Rp50 dan diikuti dengan volume perdagangan yang rendah dan tidak disebabkan oleh kinerja perseroan," kata Audrey dalam keterangan resminya, Kamis (13/8).

Keputusan peninjauan indeks tersebut berjalan secara berkala. Audrey menyatakan, perseroan akan terus menjalin dialog aktif dengan MSCI.

Secara paralel, GOTO juga akan tetap fokus mengelola bisnis untuk menciptakan nilai tambah bagi seluruh pemegang saham. Dari segi kinerja, pada kuartal-II 2026, GOTO membukukan laba bersih Rp252 miliar dan pendapatan bersih Rp5,7 triliun. EBITDA Grup yang disesuaikan juga menembus Rp1 triliun untuk pertama kalinya.

"Dan tetap on-track untuk mencapai pedoman kinerja tahunan kami, dengan EBITDA Grup yang disesuaikan Rp3,2 triliun-Rp3,4 triliun," ujar Audrey.

Sebagai konteks, dalam pengumuman ulasan indeks Agustus 2026, MSCI menghapus saham GOTO dan PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) dari Global Standard Index. CPIN turun kelas ke MSCI Small Cap Index, sedangkan GOTO tidak lagi terdaftar di indeks MSCI termasuk dalam kelompok Small Cap.

Selain itu, MSCI pun menghapus 9 emiten dari kategori Small Cap Index, yakni: ARTO, BUKA, ESSA, FILM, HEAL, KPIG, RATU, SMGR, dan TCPI. Putusan itu akan berlaku efektif pada 1 September 2026.

Terkait putusan terbaru MSCI, Direktur Utama Bursa Efek Indonesia, Jeffrey Hendrik, mengatakan, rebalancing itu secara periodik dilakukan oleh MSCI. Sama seperti proses rebalancing sebelumnya, MSCI pun menggunakan keterbukaan informasi publik yang BEI sampaikan, seperti HSC dan kepemilikan saham 1 persen.

"Komunikasi kami dengan MSCI tentu akan terus dilanjutkan. Demikian juga komunikasi dengan investor global," kata Jeffrey kepada pers, Kamis.

Analis: Penyebabnya lebih dari soal fundamental emiten

Laju IHSG pada Rabu (28/1).

Sebelumnya, Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji, menyebut, penyebab penghapusan saham-saham itu bisa berhubungan dengan ukuran, free float, likuiditas, kelayakan investasi, atau parameter metodologi MSCI lainnya. "Bukan semata-mata karena fundamental perusahaan," katanya pada Kamis pagi.

Sementara itu, Pengamat Pasar Modal dan Founder Republik Investor, Hendra Wardana, mengatakan, dihapusnya GOTO dari MSCI Global Standard Index dan turun kelasnya CPIN menjadi alarm keras bahwa persoalan pasar modal Indonesia bukan lagi sekadar soal jumlah emiten atau kapitalisasi pasar. Namun sudah menyentuh kualitas likuiditas dan kelayakan investasi (investability).

"MSCI tentu tidak mengambil keputusan ini tanpa dasar. Ketika sebuah saham tidak lagi memenuhi parameter yang dibutuhkan investor institusi global, termasuk ukuran kapitalisasi yang dapat diinvestasikan dan likuiditas, maka konsekuensinya adalah penurunan kelas atau bahkan keluar dari indeks," katanya.

Belum lagi, putusan itu diambil ketika pasar modal sedang berupaya meyakinkan investor global bahwa reformasi pasar sudah berjalan. Itu dilakukan lewat sejumlah langkah, termasuk peningkatan batas minimal free float, transparansi pemegang saham, penguatan tata kelola dan berbagai reformasi lain.

Hendra menambahkan, di sisi lain, sejumlah saham Indonesia justru kehilangan tempat di indeks global yang menjadi salah satu rujukan utama investor institusi. Menurutnya, hal itu menunjukkan, reformasi di atas kertas belum otomatis menghasilkan pasar yang lebih dalam dan lebih likuid.

Ia juga menilai, keluarnya GOTO dari indeks juga harus dibaca lebih kritis. Dalam hematnya, GOTO merupakan salah satu perusahaan dengan kapitalisasi pasar besar dan selama ini menjadi salah satu nama penting dalam ekosistem pasar modal Indonesia. Namun kapitalisasi besar tidak otomatis berarti investability yang kuat.

Hendra menyebut, bagi investor global, yang penting bukan hanya seberapa besar nilai perusahaan, tetapi seberapa besar saham yang benar-benar tersedia untuk publik dan seberapa mudah saham tersebut diperdagangkan dalam jumlah besar tanpa mengganggu harga. "Jadi ketika likuiditas menjadi persoalan, ini menunjukkan masih adanya kesenjangan antara ukuran pasar di atas kertas dengan kualitas pasar yang benar-benar dapat diakses investor institusi," katanya.

Dalam analisisnya, keputusan itu pun memiliki dampak lanjutan. Setelah saham keluar dari indeks MSCI, dana pasif maupun investor institusi yang menggunakan indeks sebagai benchmark akan melakukan penyesuaian portofolio. Alhasil, tekanan jual dapat semakin besar apabila likuiditas saham sedang tipis. Itu terjadi di tengah aksi jual beli asing sepanjang 2026.

Lebih jauh, Hendra berpendapat, ini bukan hanya cerita GOTO dan CPIN. Ketika dalam satu review MSCI terdapat beberapa saham Indonesia yang keluar dari berbagai indeks, pertanyaannya harus diarahkan kepada kualitas ekosistem pasar modal secara keseluruhan.

Menurutnya, itu juga dapat menjadi kritik terhadap pendekatan pengembangan pasar modal yang terlalu berorientasi pada supply side. Menambah emiten, menerbitkan produk baru dan memperbesar jumlah perusahaan tercatat memang penting, tetapi percuma jika tidak diikuti pertumbuhan permintaan dan likuiditas.

Karena itu, ia berpandangan, regulator dan Bursa Efek Indonesia perlu berhenti melihat persoalan likuiditas hanya sebagai masalah teknis perdagangan. Likuiditas adalah indikator kualitas pasar. "Kalau saham dengan kapitalisasi besar saja dapat kehilangan status di indeks global karena persoalan investability, berarti ada persoalan yang lebih mendasar yang harus dibenahi," ujarnya. "Jangan sampai reformasi pasar modal terlalu sibuk memperbaiki aturan administratif, tetapi lupa memastikan apakah pasar benar-benar semakin menarik dan mudah dimasuki oleh investor global."

Curated For You

Editorial Team

Related Article