IHSG Tertahan di Tengah Tekanan Asing, Mampukah Tembus 6.450?

- IHSG diproyeksikan menguat terbatas setelah turun 0,69 persen, di tengah net sell asing Rp875,51 miliar di pasar reguler, meski all market mencatat beli bersih Rp829,70 miliar.
- Tren bullish jangka pendek masih terjaga karena IHSG bertahan di atas sejumlah EMA, tetapi momentum tertahan; level 6.377 menjadi kunci menuju 6.463–6.500, sementara bawah 6.299 berisiko koreksi.
- Pasar cenderung hati-hati menanti CPI AS, kebijakan BI, dan data penjualan ritel domestik; IHSG diperkirakan sideways pada support 6.300–6.320 serta resistance 6.400–6.450.
Jakarta, FORTUNE - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan dapat kembali menguat walau terbatas pada Selasa (11/8), setelah ditutup melemah 0,69 persen kemarin.
Kiwoom Sekuritas mencatat, investor asing membukukan net sell Rp875,51 miliar di pasar reguler, namun secara all market masih mencatatkan aksi beli bersih Rp829,70 miliar. Aliran dana asing terutama masuk ke DSSA, MDKA, TINS, BBCA, dan PSAB, sementara tekanan jual terbesar terjadi pada TPIA, BMRI, TLKM, ASII, dan BBRI.
"Di pasar valuta, rupiah menguat ke sekitar Rp17.760 per dolar AS, mencatat penguatan dua sesi berturut-turut dan mencapai level tertinggi tujuh minggu, didukung nominasi Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur BI serta pelemahan DXY," tulis Head of Research Kiwoom Sekuritas, Liza dalam risetnya.
Secara teknikal, IHSG membentuk bearish candle setelah gagal mempertahankan breakout resisten di 6.377, meski masih ditutup di atas EMA10 (6.299), EMA20 (6.230), dan EMA50 (6.264), sehingga tren bullish jangka pendek masih terjaga namun momentum mulai tertahan. RSI (14) di 60,69 menunjukkan momentum positif masih cukup kuat dan belum memasuki area overbought.
Liza menilai, selama mampu kembali menembus dan kembali bertahan di atas 6.377, IHSG berpeluang melanjutkan penguatan menuju 6.463–6.500, dengan target berikutnya sekitar 6.723. "Sebaliknya, pelemahan di bawah 6.299 berisiko memicu koreksi menuju 6.264, kemudian 6.230," katanya.
Ia menambahkan, sentimen pasar cenderung hati-hati menjelang rilis data CPI Juli AS pada Rabu yang menjadi indikator penting bagi arah kebijakan The Fed. Pasar memperkirakan inflasi tahunan melambat menjadi 3,4 persen dari 3,5 persen pada Juni, sementara data tenaga kerja yang lebih lemah sebelumnya telah menurunkan ekspektasi kenaikan suku bunga pada September.
BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) menambahkan, pasar pada perdagangan hari ini diperkirakan bergerak lebih terbatas, dengan investor mencermati perkembangan kebijakan BI serta data domestik. Berdasarkan kalender ekonomi, perhatian tertuju pada Retail Sales YoY yang diproyeksikan membaik menjadi 1,8 persen dari sebelumnya -3,9 persen.
Technical Analyst BRIDS, Reza Diofanda, mengatakan, jika realisasi sesuai atau di atas ekspektasi, dapat menjadi katalis positif terhadap persepsi konsumsi domestik, namun ruang penguatan IHSG masih berpotensi terbatas setelah kenaikan sebelumnya.
Secara teknikal, IHSG berpotensi bergerak sideways dengan support terdekat di 6.300–6.320 dan resistance penting di 6.400 - 6.450. "Rejection dari area 6.450 menjadi sinyal bahwa momentum penguatan mulai tertahan, sehingga IHSG berpotensi konsolidasi terlebih dahulu," kata Reza.
Daftar saham yang disoroti oleh tim BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) hari ini adalah PSAB, ESSA, dan BWPT.










