"Mekanisme perubahan kepemilikan dan pemegang saham bursa efek ini nantinya akan diserahkan kepada bursa efek melalui mekanisme pengambilan keputusan oleh para pemegang saham bursa efek saat ini," kata Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, dalam Konferensi Pers RDKB OJK Juli 2026, dikutip Rabu (4/8).
Danantara Target Demutualisasi BEI Rampung dalam Beberapa Bulan

- Danantara menargetkan proses demutualisasi BEI selesai dalam beberapa bulan, melalui minat investasi Danantara Investment Management untuk menjadi pemegang saham bursa.
- OJK menyiapkan aturan demutualisasi BEI yang ditargetkan rampung pekan kedua September 2026 dan efektif kuartal III-2026, guna mengatur pengalihan kepemilikan serta menarik investor strategis.
- Danantara Asset Management mendorong IPO BUMN dalam enam hingga 12 bulan untuk menambah likuiditas pasar, termasuk Pegadaian, Pupuk Indonesia, Pelindo, dan Angkasa Pura Indonesia.
Jakarta, FORTUNE - Proses demutualisasi Bursa Efek Indonesia (BEI) tengah berlangsung. Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) membidik prosesnya dapat rampung dalam beberapa bulan ke depan.
Sebagai konteks, BPI Danantara telah menyatakan minat menjadi pemegang saham bursa melalui mekanisme demutualisasi bursa itu. Langkah itu dilakukan melalui Danantara Investment Management (DIM), melalui pelaksanaan investasi untuk demutualisasi itu.
Berapa porsi saham yang diajukan Danantara? "Nanti detailnya akan kami bagikan semua sebentar lagi. Ini sedang berkomunikasi, baik dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan bursa," kata Chief Investment Officer (CIO) Danantara Indonesia, Pandu Sjahrir saat ditemui di gedung BEI, Senin (10/8).
Sebelum ini, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menargetkan Rancangan Peraturan OJK (RPOJK) tentang demutualisasi Bursa Efek Indonesia (BEI) rampung pada pekan kedua September 2026 dan berlaku efektif pada kuartal III-2026. Secara garis besar, RPOJK tersebut merancang mekanisme pengalihan kepemilikan saham saat demutualisasi bursa efek dilakukan. Langkah ini ditujukan guna menarik investor strategis agar dapat berkontribusi langsung dalam pengembangan BEI ke depan.
Selaras dengan proses tersebut, entitas Danantara lain, yakni Danantara Asset Management (DAM), tengah berupaya mendorong IPO saham sejumlah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di pasar modal. Tujuannya, menambah likuiditas pasar modal Indonesia.
"Itu prosesnya ada di dalam DAM. Kami dapat fokuskan [prosesnya] enam sampai 12 bulan ke depan. Itu ada proses juga nanti di dalam bursa," kata Pandu. "Nanti dari sisi Pak Dony bisa komunikasi langsung."
Sebelumnya, Kepala Badan Pengaturan Badan Usaha Milik Negara (BP BUMN) dan Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, menyebutkan, terdapat empat BUMN yang berpeluang mencatatkan saham di Bursa Efek Indonesia. Mereka adalah PT Pegadaian (Persero), PT Pupuk Indonesia (Persero), PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo, dan PT Angkasa Pura Indonesia (Persero) atau API.
Menurut Dony, perusahaan-perusahaan itu potensial untuk melantai di bursa karena faktor kapitalisasi pasar. "Banyak perusahaan-perusahaan kita yang bagus, yang akan segera IPO," katanya, sebagaimana dikutip dari IDN Times.












