Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install
For
You

Laju IHSG Diproyeksi Konsolidasi, Pasar Dibayangi Kredibilitas Kebijakan

Laju IHSG Diproyeksi Konsolidasi, Pasar Dibayangi Kredibilitas Kebijakan
Layar yang menunjukkan laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI). (ANTARA FOTO/Aprillio Akbar)
Intinya Sih
  • IHSG diperkirakan bergerak terbatas di kisaran 5.600–5.800, dengan pasar mencermati data perdagangan, inflasi, dan nilai tukar rupiah sebagai faktor utama arah pergerakan.
  • Data ekonomi menunjukkan defisit neraca perdagangan US$1,61 miliar pada Mei 2026 serta penurunan PMI manufaktur ke level 46,9 yang menandakan kontraksi aktivitas industri.
  • Inflasi Juni naik menjadi 3,34 persen didorong kenaikan harga pangan dan bahan bakar, sementara kekhawatiran terhadap kredibilitas kebijakan fiskal masih membayangi sentimen investor.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, FORTUNE - Setelah ditutup menguat 0,92 persen ke level 5.695,12, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan melaju terbatas pada Kamis (2/7).

Technical Analyst BRI Danareksa Sekuritas, Reza Diofanda, mengatakan, secara teknikal, laju IHSG akan berkisar antara support 5.560 dan resisten di 5.820. Saham-saham yang ia soroti hari ini adalah RAJA, MBMA, dan NCKL.

"Pasar akan mencermati respons lanjutan terhadap data perdagangan dan inflasi, serta perkembangan nilai tukar rupiah yang masih menjadi penentu utama arus dana asing," kata Reza dalam riset hariannya.

Selain itu, investor juga menantikan rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) sebagai petunjuk arah kebijakan suku bunga The Fed selanjutnya.

Kemarin, penguatan IHSG didorong oleh respons pasar terhadap rilis data ekonomi domestik. Meski Indonesia mencatat defisit neraca perdagangan senilai US$1,61 miliar pada Mei 2026, penguatan IHSG mencerminkan aksi bargain hunting setelah koreksi tajam sebelumnya.

Di sisi lain, inflasi Juni naik menjadi 3,34 persen (YoY) didorong kenaikan harga pangan. Sementara itu, rupiah melemah tipis ke Rp17.952 per dolar Amerika Serikat (AS).

Lebih lanjut, Phintraco Sekuritas menilai, IHSG secara teknikal menunjukkan bahwa Stochastic RSI mendekati area oversold namun MACD berpotensi mengalami Death Cross. Sehingga diperkirakan IHSG berpeluang berkonsolidasi pada kisaran 5.600-5.800. 

Indeks S&P Global Manufacturing PMI Indonesia turun di level 46,9 di Juni 2026 dari 50 di Mei 2026 (1/7). Level itu merupakan yang terendah sejak Juni 2025 dan menandakan kontraksi kedua pada tahun ini. Penurunan antara lain disebabkan oleh koreksi pada pesanan baru dan penjualan ekspor yang turun.

Dari neraca perdagangan, secara tak terduga mencatatkan defisit sebesar US$1.61 miliar di Mei 2026 (1/7), yang merupakan defisit pertama sejak April 2020. Ekspor mengalami penurunan 5,73 persen (YoY) pada Mei 2026, di luar ekspektasi yang diperkirakan tumbuh 6.4 persen (YoY). Impor tumbuh 22,16 persen (YoY), lebih tinggi dari estimasi yang sebesar 19,5 persen, yang terutama didorong oleh kenaikan impor migas. 

Laju inflasi berakselerasi di atas perkiraan yang sebesar 3,2 persen (YoY). Itu merupakan level inflasi tertinggi sejak Maret 2026, namun masih dalam kisaran target Bank Indonesia (BI). Kenaikan inflasi itu sejalan dengan kenaikan harga Pertamax sejak 10 Juni 2026 lalu.

Untuk inflasi inti tercatat menjadi 2,76 persen (YoY) pada Juni 2026 dari 2,59 persen (YoY) pada Mei 2026, serta berada pada level tertinggi dalam 38 bulan terakhir.

Sementara itu Fitch Ratings menilai bahwa cadangan devisa Indonesia tetap tertekan meskipun BI telah menaikkan BI rate sebanyak 100 bps. "Sentimen investor masih lemah akibat kekhawatiran akan kredibilitas kebijakan, disiplin fiskal dan rencana ekspor melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI)," kata tim riset Phintraco Sekuritas.

Daftar saham pilihan mereka hari ini adalah BRPT, ESSA, JPFA, ERAA, dan RAJA.

Share Article
Topics
Editorial Team
Pingit Aria
EditorPingit Aria

Related Articles

See More