Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Proline Resmi IPO, Catat Oversubscribe 700 Kali dan 1,2 Juta Order
Seremoni pencatatan saham PRDL, Kamis (9/7).
  • PT Prodia Diagnostic Line Tbk (Proline) resmi melantai di BEI dengan IPO yang mencatat oversubscribe 700 kali dan total 1,2 juta pesanan dari investor ritel.
  • Melalui penawaran 522,9 juta saham seharga Rp120 per lembar, Proline berhasil menghimpun dana Rp62,7 miliar untuk ekspansi bisnis, peningkatan operasional, dan penguatan industri alat kesehatan nasional.
  • Dana IPO dialokasikan untuk belanja modal, modal kerja, serta pelunasan kredit bank; sementara prospek industri diagnostik tetap positif berkat dukungan anggaran kesehatan pemerintah dan program screening nasional.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, FORTUNE - PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL) atau Proline menghimpun total 1,2 juta pesanan dalam aksi pencatatan perdana atau Initial Public Offering (IPO) saham.

Direktur Utama Proline, Cristina Sandjaja, mengatakan, IPO tersebut juga mencatatkan kelebihan permintaan atau oversubscribe sebanyak 700 kali dari porsi penjatahan. Angka itu diklaim memecahkan jumlah order tertinggi oleh investor ritel.

"Banyak yang bertanya kepada kami, mengapa [kami] repot-repot melakukan penawaran umum perdana hanya untuk nilai emisi yang sedikit? Bagi kami, melakukan IPO bukan hanya tonggak pencapaian keuangan, melainkan juga langkah selanjutnya untuk meningkatkan kualitas perusahaan kami," kata Cristina di seremoni pencatatan saham PRDL, Kamis (9/7) di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Lewat IPO, perseroan melepas 522,9 juta saham baru atau 30 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO dengan harga penawaran final Rp120 per saham. Dengan demikian, perseroan menghimpun dana senilai Rp62,7 miliar.

Dana tersebut akan Proline gunakan untuk memperluas jangkauan bisnis, meningkatkan kapasitas operasional, dan memperkuat kontribusi terhadap pengembangan industri alat kesehatan nasional.

Secara detail, perseroan mengalokasikan 28,18 persen dana IPO untuk belanja modal demi kebutuhan pembelian mesin dan peralatan kalibrasi, kendaraan, sistem software, relayout area produksi dan penambahan AHU lab biomolekuler.

Kemudian, 10,18 persen dana untuk modal kerja seperti pembelian bahan baku, biaya produk dan pengemabngan, serta pemasaran dan penjualan.

Sementara itu, Rp35,67 miliar akan perseroan pakai untuk pelunasan pokok fasilitas kredit kepada PT Bank Central Asia Tbk dan PT Bank Pan Indonesia Tbk.

Terkait prospek industri, perseroan masih melihat peluang positif pada tahun ini. Itu didukung oleh alokasi anggaran kesehatan pemerintah sebesar Rp244 triliun serta target program screening kesehatan nasional menjangkau 140 juta penduduk.

Didukung lebih dari10.000 puskesmas di seluruh Indonesia dan meningkatnya fokus pemerintah terhadap deteksi dini penyakit, industri diagnostik in vitro diperkirakan masih memiliki ruang pertumbuhan yang besar dalam beberapa tahun ke depan.

"Kami melihat peluang pertumbuhan yang masih sangat besar, terutama pada fasilitas kesehatan primer yang belum seluruhnya terjangkau," kata Cristina.

Saat ini perseroan memiliki lebih dari 1.083 SKU produk aktif, menjangkau 38 provinsi dan 370 kabupaten/kota, serta telah digunakan oleh lebih dari 7.600 pelanggan di Indonesia. Jaringan tersebut mencakup sekitar 7.000 puskesmas, 300 rumah sakit, 317 dinas kesehatan kabupaten/kota, serta puluhan institusi kesehatan lainnya. Lini produk utama PRDL juga memiliki Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) di atas 70 persen.

Curated For You

Editorial Team

Related Article