Telkomsel Enterprise Perluas Bisnis Data, Bidik Berbagai Sektor Industri

- Telkomsel Enterprise meluncurkan Big Data Telco Insight melalui Snowflake Marketplace untuk mengolah data jaringan menjadi wawasan populasi.
- Produk ini menyasar ritel, properti, jasa keuangan, barang konsumsi, pariwisata, dan sektor publik untuk analisis pasar serta wilayah.
- Telkomsel menyatakan wawasan yang dibagikan berupa data agregat dan anonim sesuai kerangka tata kelola serta regulasi data di Indonesia.
Jakarta, FORTUNE — Telkomsel Enterprise memperluas bisnis data dengan meluncurkan Big Data Telco Insight melalui Snowflake Marketplace. Layanan ini memungkinkan perusahaan memanfaatkan informasi yang dihasilkan dari data jaringan Telkomsel untuk membaca pergerakan populasi, aktivitas wilayah, hingga tren pasar.
Layanan tersebut sekaligus menandai perluasan bisnis Telkomsel dari penyedia konektivitas menjadi penyedia data intelligence bagi perusahaan. Big Data Telco Insight akan mengolah data sinyal jaringan dalam skala besar menjadi wawasan populasi yang telah diagregasi dan dianonimkan.
Dengan cakupan nasional, produk tersebut dapat digunakan perusahaan untuk menganalisis pola mobilitas populasi, aktivitas di suatu wilayah, komposisi demografis, keterlibatan digital, hingga tren pasar.
Telkomsel menargetkan pengguna data insight tersebut di berbagai sektor, seperti ritel, properti, jasa keuangan, barang konsumsi, pariwisata hingga sektor publik. Data tersebut dapat digunakan, antara lain, untuk memperkirakan permintaan pasar, menentukan lokasi ekspansi, merencanakan investasi infrastruktur, serta mengidentifikasi peluang pasar baru.
“Skala dan keragaman Indonesia membutuhkan informasi yang benar-benar mencerminkan perubahan masyarakat, bisnis, dan pasar di seluruh negeri,” ujar Jockie Heruseon, Vice President of Data Solutions and Digital Financial Services, Telkomsel Enterprise di Jakarta, Rabu (2/9).
Ia menjelaskan, hal yang membedakan Telkomsel dengan perusahaan telekomunikasi besar lainnya di Indonesia adalah kekayaan dan kedalaman data yang perusahaan miliki.
Menurut Jockie, Telkomsel sebagai perusahaan telekomunikasi dengan jangkauan jaringan nasional memberikan akses terhadap data yang dapat diolah menjadi wawasan mengenai perubahan perilaku dan mobilitas masyarakat.
“Kolaborasi kami dengan Snowflake memperluas peran Telkomsel Enterprise tidak hanya sebagai penyedia konektivitas, tetapi juga memungkinkan bisnis menggunakan wawasan ini bersama data mereka sendiri untuk memahami pasar dengan lebih baik, mendukung keputusan investasi, dan menangkap peluang pertumbuhan baru,” katanya.
Misalnya, di sektor jasa keuangan. Institusi keuangan dapat memanfaatkan wawasan tingkat kota untuk melihat lanskap penggunaan layanan perbankan digital dan menggunakannya sebagai salah satu konteks dalam menyusun strategi bisnis.
Big Data Telco Insight
Melalui Snowflake Marketplace, pelanggan yang menggunakan Snowflake dapat mengakses Big Data Telco Insight langsung di lingkungan data mereka. Wawasan dari jaringan Telkomsel kemudian dapat dianalisis bersama data internal perusahaan.
Model tersebut mengurangi kebutuhan perusahaan untuk memindahkan dan mengintegrasikan data eksternal secara manual. Dengan demikian, perusahaan dapat lebih cepat menggunakan data untuk pelaporan, analitik lanjutan maupun pengembangan aplikasi berbasis AI.
Big Data Telco Insight dirancang untuk memberikan konteks mengenai pola mobilitas dan karakteristik suatu wilayah tanpa memberikan informasi mengenai pelanggan secara individu.
Dalam praktiknya, perusahaan ritel dapat menggunakan insight tersebut untuk memahami potensi suatu lokasi sebelum membuka gerai baru. Pengembang properti dapat menggunakannya untuk membaca aktivitas dan mobilitas suatu wilayah, sementara perusahaan barang konsumsi dapat memperoleh tambahan konteks untuk memperkirakan permintaan.
Bagi sektor pariwisata, data mobilitas dapat membantu melihat pola aktivitas masyarakat di suatu kawasan. Sementara sektor publik dapat memanfaatkannya sebagai salah satu sumber informasi dalam memahami dinamika populasi dan aktivitas wilayah.
Meski begitu, Telkomsel menekankan, seluruh wawasan dalam produk tersebut telah diagregasi dan dianonimkan. Pemrosesan data juga dilakukan dengan kerangka tata kelola yang disesuaikan dengan regulasi terkait data di Indonesia, termasuk Undang-Undang (UU) Perlindungan Data Pribadi.
“Kami pastikan data yang dibagikan bukan merupakan data personal. Data yang digunakan adalah data agregat. Kami tetap mematuhi ketentuan Perlindungan Data Pribadi (PDP) dan seluruh regulasi yang berlaku,” kata Jockie.
Sementara itu, Angela Koh, Director of Partnerships & Alliances, ASEAN, Snowflake, mengatakan data internal perusahaan sering kali belum cukup untuk memberikan gambaran menyeluruh mengenai kondisi pasar.
“Data milik suatu organisasi sendiri hanya dapat memberikan sebagian gambaran, terutama di pasar sebesar dan seberagam Indonesia,” ujar Angela.
Menurut dia, penggabungan informasi telekomunikasi dengan data internal perusahaan dapat membantu bisnis memperoleh gambaran yang lebih lengkap mengenai dinamika pasar sekaligus mendukung pengembangan penggunaan AI berbasis data dan mempermudah proses pengambilan keputusan.
Pertumbuhan bisnis
Sejak beroperasi di Indonesia empat tahun lalu, Snowflake melihat pertumbuhan bisnis yang pesat di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Satchit Joglekar, Managing Director ASEAN for Snowflake, dibandingkan saat awal beroperasi, perusahaan saat ini telah memiliki puluhan pelanggan dari berbagai sektor.
Indonesia merupakan pasar dengan pertumbuhan tercepat bagi Snowflake di kawasan ASEAN. Sementara ASEAN secara keseluruhan juga merupakan salah satu kawasan dengan pertumbuhan bisnis tercepat perusahaan di Asia Pasifik.
“Ketika kami mulai hadir sekitar empat tahun lalu, kami hampir tidak memiliki pelanggan di Indonesia. Sekarang kami sudah memiliki puluhan pelanggan dari berbagai industri, dan jumlah tersebut terus bertumbuh dengan cepat,” ujar Satchit.
Menurutnya, perkembangan tersebut menunjukkan semakin pentingnya posisi Indonesia bagi Snowflake, sekaligus mencerminkan cepatnya adopsi teknologi data cloud di pasar domestik.
Pada tahap awal ekspansi di Indonesia, Snowflake banyak melayani perusahaan dari sektor manufaktur, pertambangan, pertanian, dan agritech. Salah satu pelanggan awalnya adalah Japfa, perusahaan yang memiliki bisnis peternakan ayam dan berbagai kegiatan di sektor agrikultur.
Namun, menurut Satchit, profil pelanggan Snowflake di Indonesia kini mulai bergeser dan mulai meluas ke industri yang memiliki tingkat regulasi lebih ketat, seperti perbankan.
“Kami mulai melihat semakin banyak pelanggan dari industri yang sangat teregulasi,” katanya.
Snowflake kini bekerja dengan perusahaan yang berada di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) maupun regulator lainnya, termasuk perusahaan telekomunikasi.















