Pada asumsi makroekonomi dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027, para ekonom menunjukkan keraguan. Sebanyak 37 dari 63 responden (59 persen) menilai target pertumbuhan ekonomi 6 persen sebagai asumsi yang paling sulit dicapai.
Asumsi nilai tukar rupiah sebesar Rp17.500 per dolar AS menempati urutan kedua, dipilih oleh 12 responden (19 persen). Sebanyak enam ekonom (10 persen) menilai seluruh asumsi makroekonomi dalam RAPBN tersebut dapat tercapai.
Sementara itu, kebijakan fiskal memperoleh skor rata-rata minus 0,60 pada skala penilaian LPEM. 32 responden menilainya tidak efektif atau sangat tidak efektif untuk menjaga stabilitas ekonomi. 26 responden menilai kebijakan tersebut tidak memberikan dampak.
Penilaian terhadap kebijakan sektor keuangan membaik dibandingkan survei sebelumnya, tetapi skor rata-rata masih berada di bawah titik netral. Adapun penilaian terhadap kebijakan fiskal, pasar tenaga kerja, dan moneter secara umum tidak berubah secara signifikan.
Survei Ahli Ekonomi Semester II 2026 dilakukan LPEM FEB UI pada 21 September hingga 13 Oktober 2026 melalui platform daring. Sampelnya mencakup 63 ekonom dari kalangan akademisi, lembaga penelitian, sektor swasta, serta organisasi dan institusi multinasional, dengan responden dari berbagai wilayah Indonesia dan luar negeri.
Berapa persen pakar menilai kondisi ekonomi RI memburuk? | Sebanyak 52 persen atau 33 dari 63 ekonom menilai kondisi ekonomi memburuk dibandingkan tiga bulan sebelumnya. |
Apa indikator ekonomi yang paling banyak dinilai memburuk? | Sebanyak 73 persen responden menilai penciptaan lapangan kerja lebih rendah dibandingkan enam bulan sebelumnya. |
Agenda pemerintah apa yang paling berisiko tidak memenuhi ekspektasi? | Program Makan Bergizi Gratis dipilih oleh 86 persen responden. |
Berapa target pertumbuhan ekonomi RAPBN 2027 yang dinilai sulit tercapai? | Sebanyak 59 persen responden menilai target pertumbuhan ekonomi 6 persen paling sulit dicapai. |