Jakarta, FORTUNE - Pemerintah Indonesia menyoroti masih terbatasnya pemanfaatan pendanaan dalam skema Just Energy Transition Partnership (JETP) untuk mendukung percepatan transisi energi di Indonesia. Dari total komitmen pendanaan JETP sekitar US$21,4 miliar, Indonesia baru memanfaatkan sekitar US$3,93 miliar.
“Program JETP yang diluncurkan semasa Indonesia Leadership in G20, Indonesia memiliki fundasinya sekitar US$21 miliar. Tapi kemajuan ini agak lambat, dan sekarang kita menggunakan sekitar US$4 miliar. Jadi, kita perlu bergerak lebih cepat,” ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (20/8).
Airlangga menyebut bahwa tantangan yang dihadapi berkaitan dengan ekosistem hingga power purchase agreement.
“Kita tahu bahwa ada beberapa tantangan di kedua kawasan, tapi, saya pikir, itu adalah sesuatu yang Indonesia harus lakukan. Dan, finansialnyanya, Indonesia memiliki pengalaman dengan KFW, dan biasanya, bagi sektor pribadi, KFW bisa memberikan finansi untuk capital goods. Jadi, saya pikir, ini adalah sesuatu yang diperlukan oleh Indonesia,” katanya.
Selain JETP, kerja sama Indonesia-Jerman juga diarahkan pada pengembangan energi terbarukan. Jerman menilai perusahaan-perusahaannya memiliki pengalaman dan teknologi yang dapat mendukung kebutuhan Indonesia dalam proses transisi energi. Sebagai mitra penting bagi Indonesia, lebih dari 250 perusahaan Jerman beroperasi di Indonesia, dengan akumulasi investasi sekitar US$1,2 miliar antara tahun 2021 hingga kuartak I 2026.
Indonesia sendiri tengah membuka peluang investasi di sektor energi terbarukan, seiring dengan target pengembangan energi surya yang disebut mencapai sekitar 100 gigawatt dalam dua hingga tiga tahun mendatang.
Just Energy Transition Partnership (JETP) antara Indonesia dan International Partners Group (IPG – yang mencakup Jerman, Jepang, Kanada, Denmark, Italia, Norwegia, Inggris, dan Uni Eropa) diluncurkan pada 14 November 2022 saat KTT G20 di Bali. Kemitraan ini berkomitmen menyediakan dana sebesar US$21,4 miliar untuk mendukung transisi energi Indonesia, yang dimobilisasi oleh anggota IPG serta melalui Glasgow Financial Alliance for Net Zero (GFANZ).
Jerman memimpin bersama Jepang sebagai co-lead International Partners Group (IPG) untuk memobilisasi komitmen pendanaan transisi energi bersih tersebut.
