Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install

Harga Telur Peternak Tertekan, Bapanas Andalkan Jagung SPHP

Harga Telur Peternak Tertekan, Bapanas Andalkan Jagung SPHP
Telur sulit terjual dan menumpuk di kandang-kandang. (IDN Times/Riyanto)
  • Bapanas menyiapkan tambahan 150.000 ton jagung SPHP untuk menekan biaya pakan dan mendorong harga telur peternak mendekati harga acuan Rp26.500 per kilogram.
  • Pada kuartal II-2026, harga telur produsen rata-rata Rp24.637 per kilogram, di bawah HAP, sementara harga konsumen Rp29.874 per kilogram, mendekati acuan Rp30.000.
  • Realisasi tambahan jagung masih menunggu Rakortas Kemenko Pangan; Bapanas juga meminta stok SPHP Bulog yang tersisa sekitar 40 persen segera disalurkan kepada peternak.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Apakah tambahan jagung SPHP perlu segera direalisasikan?
Share Article

Jakarta, FORTUNE - Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyiapkan tambahan alokasi jagung 150.000 ton melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP). Tambahan pasokan tersebut ditujukan membantu menekan biaya pakan sekaligus mendorong harga telur ayam ras di tingkat peternak agar kembali mendekati harga acuan pemerintah.

Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, mengatakan harga telur ayam ras di tingkat produsen saat ini masih berada di bawah harga acuan penjualan (HAP). Pada kuartal II-2026, harga telur di tingkat produsen rata-rata Rp24.637 per kilogram, sementara HAP ditetapkan Rp26.500 per kilogram.

“[Harga telur ayam ras] di sisi produsen ini masih rendah karena masih rata-rata Rp24.600-an [per kilogram], dia seharusnya Rp26.500 [per kilogram],” kata Ketut dalam rapat koordinasi pengendalian inflasi daerah yang disiarkan melalui YouTube Kementerian Dalam Negeri, Selasa (18/8).

Pada sisi konsumen, harga telur relatif lebih dekat dengan harga acuan. Harga telur ayam ras pada kuartal II-2026 mencapai Rp29.874 per kilogram, sedangkan HAP pada tingkat konsumen Rp30.000 per kilogram.

Menurut Ketut, kondisi tersebut membuat pemerintah tidak hanya berupaya menahan kenaikan harga di tingkat konsumen, tetapi juga mendorong perbaikan harga di tingkat produsen. Harga telur yang terlalu rendah berpotensi menekan margin peternak ketika biaya produksi masih tinggi.

“PR kami adalah bagaimana upaya kita bersama untuk mengendalikan agar harga telur di tingkat produsen tidak di bawah HAP terlalu jauh,” ujarnya.

Salah satu intervensi yang disiapkan pemerintah adalah menambah penyaluran jagung SPHP. Ketut mengatakan keputusan tersebut diambil setelah Bapanas bersama Kementerian Pertanian menggelar pertemuan dengan asosiasi peternak telur di Surabaya untuk membahas kondisi harga telur dan dukungan pemerintah terhadap peternak.

Dalam pertemuan itu, pemerintah memutuskan untuk menambah alokasi jagung SPHP sebesar 150.000 ton. Namun, realisasi tambahan tersebut masih menunggu hasil rapat koordinasi terbatas (Rakortas) di Kementerian Koordinator Bidang Pangan.

Ketut berharap tambahan jagung SPHP dapat memberikan ruang bagi peternak ayam petelur untuk mendapatkan bahan baku pakan dengan harga lebih terjangkau. Pasalnya, biaya pakan menjadi salah satu faktor penting yang memengaruhi keberlangsungan usaha peternakan, selain harga day-old chick (DOC) dan kondisi daya beli masyarakat.

“Kalau nanti ada penyesuaian di tingkat produsen harga telur ke arah yang harga acuan, tentu akan sedikit mengalami peningkatan IPH,” kata Ketut.

Meski begitu, pemerintah juga berupaya memastikan kenaikan harga di tingkat produsen tidak menimbulkan tekanan berlebihan terhadap harga telur yang dibayar konsumen. Karena itu, intervensi pasokan jagung diharapkan dapat membantu memperbaiki struktur biaya peternak sekaligus menjaga keseimbangan harga di sepanjang rantai pasok.

Selain menunggu pengesahan tambahan 150.000 ton, Bapanas meminta jagung SPHP yang masih tersimpan di Perum Bulog segera disalurkan dan diserap peternak. Ketut menyebut stok jagung SPHP yang tersisa saat ini masih sekitar 40 persen.

Bapanas berharap percepatan distribusi tersebut dapat segera membantu peternak menghadapi tekanan biaya pakan. Pemerintah juga masih menunggu keputusan Rakortas Kemenko Pangan terkait tambahan 150.000 ton jagung SPHP.

    Share Article
    Editorial Team

    Latest in News

    See More