Comscore Tracker
NEWS

Mobilitas Masyarakat Meningkat di Tengah Risiko Penularan Omicron

WHO nyatakan risiko peyebaran Omicron masih sangat tinggi.

Mobilitas Masyarakat Meningkat di Tengah Risiko Penularan OmicronIlustrasi Omicron. (Pixabay/BelnderTimer)

by Bayu Pratomo Herjuno Satito

Jakarta, FORTUNE – Pergerakkan penumpang hampir di seluruh moda transportasi meningkat cukup pesat menjelang momentum libur akhir tahun. Hal ini terjadi di tengah tingginya risiko penularan virus corona varian baru Omicron. 

Pengelola Bandara Internasional Soekarno-Hatta melaporkan kenaikan jumlah penumpang sebesar 60 persen selama periode Natal dan menjelang Tahun Baru. Setiap harinya, tercatat ada sekitar 80.000-85.000 penumpang berangkat dari bandara ini dengan tujuan Bali, Medan, Surabaya, maupun Makassar.

Sementara itu, Dinas Perhubungan DKI Jakarta mencatat adanya kenaikan signifikan penumpang angkutan umum saat Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level 1 sebesar 81,7 persen dibanding pada saat PPKM level 3 diberlaakukan. 

Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Syafrin Liputo, mengatakan kenaikan jumlah penumpang terjadi di berbagai moda transportasi, seperti TransJakarta, Mass Rapid Transit (MRT), Light Rapid Transit (LRT), hingga Komuter Rel Listrik (KRL). “Sebelumnya, untuk keempat moda ini, jumlah penumpang sekitar 569 ribu penumpang. Sekarang ini sudah meningkat 1.034.000 penumpang," seperti dikutip Antara (29/12)

Kenaikan penumpang  kerap terjadi di beberapa moda transportasi pada saat menjalang pergantian tahun. Namun, di tengah maraknya penyebaran varian baru Omicron, mobilitas penumpang tetap ramai. Padahal, pada Rabu (29/12), Organisasi Kesahatan Dunia (WHO) telah memperingkatkan bahwa risiko yang ditimbulkan oleh Omicron masih sangat tinggi.

Varian Omicron sudah mendominasi

Melansir Channel News Asia (29/12), WHO mengungkapkan Omicron menjadi salah satu musabab melonjaknya kasus virus Covid di beberapa negara. Saat ini, varian baru tersebut sudah menggantikan dominasi varian Delta.

Pada pekan lalu, jumlah kasus baru secara global naik hingga 11 persen dibandingkan minggu sebelumnya. "Ini sesuai dengan hanya 5 juta kasus baru dan lebih dari 44.000 kematian baru," tulis WHO seperti yang dilansir dari CNA. 

WHO mengungkapkan bahwa kasus baru tertinggi dilaporkan Amerika Serikat, Inggris, Prancis, dan Italia. Namun, tingkat pertumbuhan yang cepat, kemungkinan merupakan kombinasi dari penghindaran kekebalan tubuh dan peningkatan transmisibilitas intrinsik dari varian Omicron.

WHO akan tinjau Omicron lebih lanjut

Selain memperlihatkan tingkat penyebaran yang tinggi, WHO juga menyoroti penurunan kasus yang terjadi di Afrika Selatan–negara pertama yang melaporkan kemunculan pertama Omicron. Hal ini menunjukkan perlu adanya analisis data mendalam untuk memahami keparahan Omicron dalam hal penandaan klinis, termasuk penggunaan oksigen, alat bantu pernafasan, dan kematian.

Menurut WHO, data yang lebih banyak juga dibutuhkan untuk memperlihatkan bagaimana tingkat keparahan dapat dipengaruhi oleh infeksi atau vaksinasi Covid-19 sebelumnya. “Diharapkan kortikosteroid dan obat penghambat reseptor, interleukin 6 akan tetap efektif dalam perawantan pasien dengan penyakit yang parah,” kata WHO. "Namun, data awal menunjukkan bahwa antibodi monoklonal mungkin kurang mampu menetralkan varian Omicron."

Antibodi monoklonal adalah antibodi yang diproduksi oleh satu klon sel atau garis sel dan terdiri dari molekul antibodi yang identik. Berbeda dengan vaksin Covid-19 yang membantu merangsang dan mempersiapkan sistem kekebalan seseorang sebelum terkena virus, antibodi monoklonal meningkatkan sistem kekebalan hanya setelah seseorang sakit.

Pasien terdampak Omicron di Indonesia bertambah

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia sebelumnya mengumumkan pasien terdampak Omicron baru saja bertambah 21 orang, pada Rabu (29/12). Jumlah ini didominasi oleh para pelaku perjalanan luar negeri. Dengan penambahan ini, maka kasus positif Omicron kini berjumlah 68 orang.

Untuk itu, Juru Bicara Vaksinasi Covid-19, Siti Nadia Tarmidzi, mengatakan pengetatan pintu masuk negara terus dilakukan, terutama di perbatasan laut dan darat. “Positivity rate di pintu masuk laut dan darat, 10 kali lebih tinggi daripada udara,” katanya kepada Antara (29/12).

Nadia mengimbau masyarakat untuk mengurangi mobilitas dan tetap disiplin protokol kesehatan. Upaya pelacakan kasus pun sedang diintesifkan di berbagai daerah untuk mendeteksi dini penyebaran Omicron, sehingga hal ini dapat dicegah.

Related Articles