Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Bertemu Kepala BGN, Luhut Minta Pembenahan Tata Kelola MBG
Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan dan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Pak Sudaryono untuk berdiskusi terkait pembenahan tata laksana Program Makan Bergizi Gratis (MBG), Kamis (20/8). (Dok. Dewan Ekonomi Nasional)
  • Luhut Binsar Pandjaitan meminta pembenahan menyeluruh tata kelola MBG melalui data akurat, pengawasan ketat, dan evaluasi berkelanjutan setelah bertemu Kepala BGN Sudaryono.
  • Pembangunan sekitar 1.700 SPPG diprioritaskan di wilayah 3T dengan stunting dan kerentanan pangan tinggi, termasuk Papua, Maluku, Nias, dan NTT.
  • BGN menutup sekitar 1.300 SPPG yang belum memenuhi standar kebersihan dan keamanan pangan; DEN mendorong digitalisasi pengawasan rantai pasok, kualitas makanan, serta kinerja SPPG.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, FORTUNE - Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Luhut Binsar Pandjaitan, meminta pembenahan menyeluruh terhadap tata kelola Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Menurutnya, perbaikan diperlukan agar program prioritas Presiden Prabowo Subianto tersebut berjalan lebih tepat sasaran dan memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat.

Dia menyampaikan hal tersebut setelah bertemu dengan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono, untuk membahas evaluasi sekaligus menguatkan sistem tata kelola gizi nasional.

Luhut mengatakan pelaksanaan MBG harus ditopang oleh data akurat, pengawasan ketat, serta evaluasi berkelanjutan agar pemerintah dapat segera mengidentifikasi dan memperbaiki berbagai persoalan yang muncul dalam pelaksanaan program.

Salah satu aspek yang menjadi perhatian DEN adalah penentuan lokasi pembangunan Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG), yang menjadi ujung tombak pelaksanaan MBG di lapangan.

Luhut meminta pembangunan SPPG lebih difokuskan ke wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), khususnya daerah yang memiliki tingkat stunting dan kerentanan pangan tinggi.

Saat ini, sekitar 1.700 SPPG diprioritaskan untuk dibangun di sejumlah wilayah, antara lain Papua, Maluku, Nias, dan Nusa Tenggara Timur (NTT).

Menurut Luhut, penentuan lokasi SPPG tidak boleh hanya mempertimbangkan aspek kemudahan operasional maupun faktor bisnis. Pemerintah harus memastikan fasilitas tersebut dibangun di daerah yang memiliki kebutuhan paling mendesak.

“Pembangunan SPPG tidak boleh lagi sekadar mengikuti kemudahan berbisnis atau mencari lokasi yang gampang. Negara harus hadir lebih dulu di tempat yang paling sulit dan paling membutuhkan,” ujar Luhut dikutip dari keterangan resmi, Kamis (20/8).

1.300 SPPG ditutup

Selain pemerataan lokasi, Luhut menyoroti kualitas dan kebersihan makanan yang disalurkan dalam program MBG. Ia mengapresiasi langkah BGN yang menutup sekitar 1.300 SPPG karena dinilai belum memenuhi standar kebersihan dan keamanan pangan.

Menurutnya, penutupan tersebut menjadi bagian dari pengawasan untuk memastikan makanan yang diterima anak-anak Indonesia memenuhi standar kualitas dan keamanan yang ditetapkan.

“Penindakan ini merupakan wujud pengawasan ketat demi menjaga kualitas gizi anak-anak Indonesia mulai dari proses yang paling mendasar,” katanya.

Langkah tersebut sekaligus menunjukkan bahwa perluasan cakupan MBG harus berjalan beriringan dengan penguatan standar pelaksanaan. Dengan jumlah penerima manfaat yang terus diperluas, pengawasan terhadap proses penyediaan hingga distribusi makanan menjadi kian penting.

Untuk memperkuat tata kelola MBG, DEN menyatakan siap memberikan dukungan kepada BGN melalui sejumlah rekomendasi strategis. Salah satunya adalah mempercepat digitalisasi sistem pengawasan.

Luhut menilai integrasi sistem digital dapat membantu pemerintah memantau rantai pasok, kualitas makanan, hingga kinerja setiap SPPG secara real time dan lebih transparan.

Sistem yang terintegrasi diharapkan dapat membuat pemerintah lebih cepat mengetahui persoalan di lapangan sekaligus meminimalkan potensi penyimpangan dalam pelaksanaan program.

“Untuk kualitas gizi masa depan anak-anak Indonesia, tidak boleh main-main. Setiap rupiah uang rakyat harus dipastikan menjadi asupan bergizi dan menyehatkan bagi generasi penerus bangsa,” ujar Luhut.

Curated For You

Editorial Team

Related Article