Comscore Tracker
NEWS

Ekonomi Digital ASEAN Diprediksi Mencapai US$1 Triliun pada 2030

Didorong pertumbuhan e-commerce dan pola konsumsi masyarakat

Ekonomi Digital ASEAN Diprediksi Mencapai US$1 Triliun pada 2030Shutterstock/Bro Crock

by Desy Yuliastuti

Jakarta, FORTUNE - Ekonomi internet di Asia Tenggara (ASEAN) diperkirakan akan mencapai US$ 1 triliun pada tahun 2030. Dalam sembilan tahun, akan semakin banyak orang di kawasan ini yang berbelanja online, termasuk menggunakan jasa pengiriman makanan.

Laporan oleh Google Alphabet (GOOGL.O), Temasek Holdings dan konsultan bisnis global Bain & Company menyebut kawasan ini telah mencatatkan 60 juta pengguna internet baru sejak awal pandemi Covid-19, sehingga totalnya menjadi 440 juta.

Melansir dari Reuters pada Rabu (18/11), wilayah yang mencakup 11 negara adalah salah satu pasar internet dengan pertumbuhan tercepat di dunia. Sebab, populasi muda, penggunaan smartphone dan urbanisasi yang cepat, dan kelas menengah yang berkembang.

Didorong oleh pertumbuhan e-commerce dan pengiriman makanan

Industri online untuk Asia Tenggara diperkirakan akan tumbuh dari sekitar US$174 miliar dalam volume barang dagangan kotor (GMV) pada akhir tahun 2021 menjadi US$360 miliar pada tahun 2025, dan US$1 triliun pada tahun 2030. 

Hal ini terutama didorong oleh pertumbuhan e-commerce dan pengiriman makanan, karena konsumen yang terjebak di rumah beralih ke internet.

Laporan tersebut, yang mencakup Indonesia, Thailand, Vietnam, Singapura, Malaysia, dan Filipina, menemukan bahwa GMV e-commerce diperkirakan akan meningkat hampir dua kali lipat menjadi US$120 miliar pada akhir tahun dan mencapai U$234 miliar pada tahun 2025.

Indonesia menyumbang 40 persen dari total GMV Asia Tenggara

Semua negara yang tercakup mengalami pertumbuhan dua digit pada tahun 2021, dengan Indonesia saja sebagai negara terpadat di kawasan ini, menyumbang 40 persen dari total GMV Asia Tenggara yang sebesar US$70 miliar.

Sementara itu, Filipina mengalami pertumbuhan 93 persen, menjadi ekonomi digital senilai US$17 miliar.

“GMV (untuk Asia Tenggara) telah meningkat 49 persen tahun-ke-tahun, karena konsumen seismik dan perubahan ekosistem yang dipercepat oleh Covid-19, terus mendorong percepatan adopsi digital besar-besaran,” kata Florian Hoppe, Kepala Praktik Digital Asia-Pasifik Bain.

Related Articles