Jakarta, FORTUNE - Sejumlah ekonom menilai target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,8 persen hingga 6,5 persen yang dipatok pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dalam RAPBN 2027 terlalu optimistis. Proyeksi pertumbuhan tersebut dinilai belum didukung oleh mesin pertumbuhan yang cukup kuat, baik dari sisi konsumsi masyarakat, belanja pemerintah, maupun realisasi investasi.
Angka target dalam asumsi makro RAPBN 2027 tersebut dipasang lebih tinggi dibandingkan target pertumbuhan ekonomi dalam APBN 2026 yang sebesar 5,4 persen. Namun, penetapan batas bawah 5,8 persen hingga batas atas 6,5 persen dipandang sulit dicapai apabila merujuk pada rekam jejak kinerja perekonomian nasional dalam beberapa tahun terakhir.
Direktur Riset Bidang Makroekonomi, Kebijakan Fiskal dan Moneter CORE Indonesia, A. Akbar Susamto, menyampaikan secara historis Indonesia hampir tidak pernah mencatatkan pertumbuhan ekonomi di atas 5,5 persen. Menurutnya, untuk menembus target baru tersebut, Indonesia membutuhkan penopang ekonomi yang jauh lebih kuat dibandingkan kondisi saat ini.
“Jika benar bahwa asumsi pertumbuhan ekonominya adalah 5,8 sampai 6,5 persen, tentu saja kita tahu itu asumsi yang sangat optimis,” kata Akbar dalam sebuah diskusi daring yang dikutip Selasa (18/8).
Akbar menjelaskan, selain hambatan historis, proyeksi kondisi ekonomi pada 2027 mendatang juga belum menunjukkan adanya faktor pendorong internal maupun eksternal yang cukup solid untuk mengerek pertumbuhan hingga ke kisaran 6 persen.
Meskipun pemerintah berpeluang mengandalkan serangkaian program baru untuk menggenjot pertumbuhan, Akbar meragukan kapasitas program-program tersebut dalam menghasilkan dampak ekonomi sebesar yang dibutuhkan.
“Kalau yang kita bayangkan sebagai program pemerintah itu seperti yang terjadi sekarang, ada terobosan MBG [Makan Bergizi Gratis], terobosan KDKMP [Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih], yang kita semua tahulah KDKMP apa yang sedang terjadi. Kayaknya memang terlalu optimistik angka 5,8 sampai 6,5 persen,” ujar Akbar.
