Comscore Tracker
NEWS

Sandiaga Uno Siapkan Visa Khusus Digital Nomad

Visa khusus ini bertujuan untuk mendorong kunjungan wisman.

Sandiaga Uno Siapkan Visa Khusus Digital NomadPantai Kuta di Lombok. Shutterstock//Mazur Travel

by Hendra Friana

Jakarta FORTUNE - Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno mengatakan pemerintah tengah menyiapkan visa khusus bagi digital nomad untuk mendorong kunjungan turis mancanegara dan pariwisata bernilai tinggi.

Visa khusus tersebut akan membolehkan para pekerja jarak jauh di Bali tinggal dalam jangka waktu lama tanpa harus memperpanjang visa tiap beberapa bulan dan menghilangkan risiko deportasi cepat karena melanggar aturan. 

Selain itu, masa berlakunya juga akan menjadi yang terlama dibandingkan visa yang ditawarkan di 33 negara lain termasuk Jerman, Meksiko, Barbados dan Estonia. 

"Indonesia mencoba menargetkan tiga hingga empat juta [pengunjung] dengan masa tinggal yang lebih lama dan kualitas belanja yang lebih baik,” kata Sandiaga dalam wawancara kepada Bloomberg, dikutip Fortune.com Selasa (7/6).

Data yang dikumpulkan oleh profesor Harvard Business School Raj Choudhury menemukan bahwa sebagian besar visa digital nomad menawarkan masa tinggal 1-2 tahun, sementara yang terlama mencapai empat tahun. Sebagian besar program visa pengembara digital formal tersebut juga membebaskan pemegang visa dari pajak penghasilan lokal.

Di Indonesia, kata Sandiaga, pembebasan pajak penghasilan untuk digital nomad juga akan diberlakukan untuk menurunkan risiko pajak berganda dan meringankan pekerja jarak jauh yang tinggal di Indonesia.

Hingga saat ini, Indonesia, dan negara-negara Asia Tenggara lainnya memang sedang mencoba untuk menghidupkan kembali sektor pariwisatanya setelah bertahun-tahun jumlah kunjungan wisatawan anjlok akibat pembatasan perjalanan. 

Awal tahun ini, Bank Pembangunan Asia (ADB) memperkirakan bahwa 9 juta orang menganggur akibat pandemi, di mana sebagiannya kehilangan pekerjaan di bidang perhotelan dan pariwisata. Karena itu lah, negara-negara Asia Tenggara menghapus pembatasan perjalanan awal tahun ini dalam upaya untuk memenangkan kembali pengunjung internasional. 

Hambatan pemulihan

Di Indonesia sendiri, pelancong yang divaksinasi dapat mengunjungi Indonesia tanpa karantina, hanya perlu menunjukkan hasil tes PCR negatif dari 48 jam sebelum keberangkatan.

Namun pemulihan yang cepat bagi sektor pariwisata Indonesia tak semudah membalikkan telapak tangan. Sebab dua negara sumber utama turis mancanegara—China dan Rusia—masih tertutup. 

Pengunjung asal Tiongkok tidak mungkin melakukan perjalanan ke luar negeri selama Beijing mempertahankan karantina masuk untuk kedatangan internasional – termasuk wisatawan Tiongkok yang kembali ke rumah. 

Sedangkan turis asal Rusia juga terjebak di dalam negeri, karena penerbangan internasional mengering karena sanksi dan wilayah udara tertutup, dan hambatan keuangan mencegah orang Rusia membayar apa pun di luar negeri.

Kendati demikian, Badan Pusat Statistik mencatat bahwa wisatawan Indonesia melonjak 500 persen pada bulan April hingga mencapai 111.000, rekor sejak pandemi—meski masih jauh di bawah rata-rata 1,3 juta pengunjung per bulan pada 2019.

Related Articles