Comscore Tracker
NEWS

Tesla Sepakat Beli Nikel dari Induk Vale Indonesia (INCO)

Tesla berharap pasokan nikel untuk produksinya terus naik.

Tesla Sepakat Beli Nikel dari Induk Vale Indonesia (INCO)Ilustrasi pabrik Tesla. Shutterstock/Michael Vi

by Hendra Friana

Jakarta, FORTUNE - Tesla Inc. mengkonfirmasi kesepakatan untuk membeli nikel dari induk usaha PT Vale Indonesia Tbk (INCO), Vale SA. Hal itu tertera di antara kontrak pasokan logam lainnya yang disampaikan Tesla dalam laporan tahunan tentang dampak global perusahaan.

Mengutip Bloomberg, laporan yang dirilis pada Jumat pekan lalu itu memuat pandangan paling komprehensif yang diberikan Tesla tentang kaitan bisnis perusahaan dengan pemasok logamnya— topik yang semakin diminati karena permintaan industri otomotif global untuk baterai kendaraan listrik (EV) telah melebihi pasokan. 

Tak seperti kebanyakan produsen mobil listrik lainnya, Tesla telah berusaha untuk memproduksi sel baterai sendiri dan membeli bahan baku langsung dari produsen logam.

Tesla mendaftarkan Vale sebagai pemasok langsung nikel untuk baterai di mana sumber logamnya berasal dari lokasi tambang terintegrasi yang mencakup smelter di Kanada. 

Laporan tersebut juga merinci perjanjian dengan produsen seperti Albemarle Corp., Livent Corp. dan China's Sichuan Yahua Industrial Group Co. untuk pasokan lithium.

Tesla berharap proporsi mineral yang bersumber langsung dari tambang bisa terus bertumbuh untuk produksinya ketika rantai pasokan baterai pemain pasar kendaraan listrik terus meningkat. Kini Tesla telah memiliki kesepakatan dengan sembilan perusahaan pertambangan dan kimia untuk memasok lebih dari 95 persen lithium-nya, lebih dari setengah kobaltnya dan lebih dari sepertiga nikelnya.

Kebijakan lain

Selain rantai pasokan mineral, dalam laporan tahunan setebal 144 halaman tersebut Tesla juga mengemukakan pelbagai hal lain seperti dampak lingkungan, strategi daur ulang, hingga upaya keragaman dan inklusi perusahaan.

Salah satunya adalah kebijakan asuransi kesehatan pekerjanya, termasuk perjalanan dan penginapan bagi karyawan yang harus mencari layanan perawatan kesehatan di luar Austin, Texas, tempat pabrik pusatnya berdiri. 

Laporan ini menjadi semakin relevan sebab Texas telah mempersulit aborsi dan negara bagian siap untuk melarang prosedur tersebut sepenuhnya jika Mahkamah Agung AS membatalkan pendiriannya untuk mencegah tindakan semacam itu.

Tesla juga membeberkan statistik yang sebelumnya tidak diungkapkan tentang perincian rasial pekerja di AS berdasarkan pengajuan pribadi yang diajukannya ke Equal Employment Opportunity Commission tiap tahun. 

Namun, tak seperti yang dilakukan pesaingnya—termasuk General Motors Co. dan Ford Motor Co—, laporan ini hanya persentase terperinci dan bukan angka mentah untuk karyawan di setiap kategori. Ia berpotensi mengaburkan kelemahan sistem tergantung pada bagaimana pekerjaan dikategorikan.

Sebagai informasi, Tesla memang memilih beberapa perusahaan untuk mempersoalkan representasi rasial pekerjanya dibandingkan dengan industri teknologi dan otomotif. Contohnya, tenaga kerja Hispanik Tesla pada akhir tahun 2021 jauh lebih tinggi daripada Ford dan GM meskipun keuntungannya jauh lebih kecil untuk peran profesional dan eksekutif. Di sisi lain, Tesla kurang terwakili untuk pekerja kulit hitam dibandingkan dengan dua pesaing yang berbasis di Detroit.

EEOC menyediakan data industri yang lebih komprehensif setiap tahun yang mungkin menempatkan angka Tesla dalam perspektif yang lebih, tetapi belum memberikan angka untuk tahun 2021.

Sementara itu, Tesla mengatakan jumlah karyawannya di seluruh dunia tumbuh 40 persen sepanjang 2021. Hal ini ditegaskan pula oleh Chief Executive Officer-nya, Elon Musk, baru-baru ini dengan sebaris tweet yang menyatakan bahwa mereka memiliki lebih dari 110.000 "pekerjaan langsung" secara global.

Related Articles