Jakarta, FORTUNE - Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Febrio Nathan Kacaribu mengatakan pemerintah tengah mengevaluasi kebijakan larangan ekspor minyak goreng dan RBD Olein dan dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi.
Pasalnya, pemerintah memiliki prioritas untuk menjaga ketersediaan bahan pokok dalam negeri dan daya beli masyarakat. Di sisi lain, momentum pertumbuhan ekonomi yang sudah mulai kembali ke masa sebelum pandemi juga terus dijaga dengan mengoptimalkan ekspor sebagai kontributor PDB.
"Prioritas-prioritas tersebut di atas ini terus akan kami lihat dan evaluasi hari demi hari, minggu demi minggu memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi, beli masyarakat, serta ketersediaan bahan pokok di Indonesia juga tetap terjaga," ujar Febrio dalam Media Briefing, Jumat (13/5).
Sebelumnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) melarang ekspor minyak goreng dan bahan bakunya untuk mengendalikan harga yang disebabkan kelangkaan di dalam negeri. Larangan ekspor yang berlaku sejak 28 April 2022 itu tertuang dalam Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 22 Tahun 2022 tentang Larangan Sementara Ekspor CPO, Refined, Bleached, & Deodorized (RBD) Palm Oil, RBD Palm Olein, dan Used Cooking Oil (UCO).
Meski demikian, dinilai belum efektif mengendalikan harga minyak goreng di dalam negeri. Sementara di sisi lain, kebijakan tersebut telah banyak menuai respons negatif dari berbagai negara karena berdampak pada kenaikan minyak sawit mentah (CPO).
Sejumlah negara yang biasanya mengandalkan pasokan tersebut dari Indonesia pun langsung bereaksi. Salah satunya India, importir minyak sawit terbesar di dunia yang menyumbang 40 persen dari konsumsi minyak nabati—menurut USDA.
Seperti dikutip The Hindu Business Line, Said Atul Chaturvedi, presiden Asosiasi Ekstraktor Pelarut India mengatakan bahwa tindakan Indonesia tersebut tidak beralasan dan telah menimbulkan dampak besar bagi India.
"Harga lokal di Indonesia mungkin jatuh sebagai akibat dari keputusan ini, tetapi harga di India mungkin meroket. Ini akan menjadi waktu yang sulit," ujarnya.