Jakarta, FORTUNE – Kementerian Pertanian (Kementan) mendorong pemanfaatan produk turunan kelapa sawit sebagai bahan baku pakan unggas guna menekan ketergantungan impor yang saat ini masih mencapai 25–30 persen.
Langkah tersebut ditempuh di tengah naiknya harga pokok produksi (HPP) pakan akibat lonjakan harga jagung di tingkat peternak yang telah menembus Rp7.000 per kilogram.
Direktur Hilirisasi Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, Makmun, menyatakan ketergantungan industri pakan terhadap komoditas impor masih cukup tinggi, khususnya untuk bahan baku pakan kaya protein. Oleh karena itu, pemerintah tengah memacu pengembangan produk turunan kelapa sawit sebagai bahan substitusi impor.
"[Soybean meal] belum bisa diharapkan [digantikan oleh] CPO, masih terus dikembangkan oleh teman-teman riset," kata Makmun dalam rapat koordinasi pengendalian inflasi daerah 2026 yang disiarkan secara virtual, Senin (5/10).
Saat ini, formulasi pakan ayam pedaging masih didominasi oleh jagung dengan porsi 45 persen. Komponen lainnya mencakup bekatul (5 persen), inti sawit (5 persen), dan minyak sawit mentah (CPO) 5 persen.
Sementara itu, bahan pakan seperti soybean meal (SBM), meat bone meal (MBM), distillers dried grains with solubles (DDGS), dan corn gluten meal (CGM) sepenuhnya masih mengandalkan pasokan impor.
Namun, pemanfaatan produk turunan sawit untuk pakan ternak masih menghadapi kendala teknis akibat adanya sisa tempurung yang keras. Material ini dapat mengganggu sistem pencernaan unggas sehingga porsi penggunaannya dalam ransum pakan saat ini dibatasi maksimal 5 persen.
"Kalau bisa [penggunaannya] di atas 10 persen," ujar Makmun.
Menurut Makmun, jika kolaborasi riset Kementan bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta perguruan tinggi berhasil meningkatkan porsi penggunaan turunan sawit hingga di atas 10 persen, kebutuhan impor SBM dapat ditekan secara signifikan.
Pada pakan ayam petelur, porsi jagung mencapai 45–50 persen dan porsi SBM berkisar 20 persen.
Di sisi lain, tekanan terhadap industri pakan kian meruncing seiring melambungnya harga jagung domestik hingga melampaui Rp7.000 per kilogram. Penurunan volume panen di sejumlah sentra produksi seperti Nusa Tenggara Barat (NTB), Gorontalo, dan Nusa Tenggara Timur (NTT) menjelang akhir tahun berimbas pada pengetatan stok nasional.
Kendati HPP pakan terkerek naik, Makmun memastikan harga jual pakan di tingkat produsen sejauh ini masih berada di bawah Harga Acuan Pemerintah (HAP).
Guna menjaga stabilitas pasokan dan harga produk peternakan secara komprehensif, Kementan menggandeng BUMN dan ID Food memfasilitasi distribusi daging ayam ke wilayah Indonesia timur, khususnya Sulawesi dan Papua.
Langkah ini sekaligus ditujukan untuk menekan harga daging dan menyeimbangkan pasokan serta harga telur di Pulau Jawa.
Kementan pun rutin berkoordinasi intensif bersama pelaku usaha skala besar, UMKM, dan koperasi peternak dalam merumuskan solusi atas tantangan harga serta ketersediaan pasokan.
"Yang dibutuhkan industri adalah bagaimana kita bisa sama-sama berjuang. Mudah-mudahan nanti ada solusi dari kementerian dan lembaga yang ingin membantu," ujarnya.
