Jakarta, FORTUNE - Di tengah ketidakpastian ekonomi, sebagian perusahaan dinilai wait and see dalam melakukan belanja IT khususnya pada AI. Meski demikian, Presiden Direktur PT Metrodata Electronics Tbk Susanto Djaja mengatakan bahwa investasi AI menjadi salah satu hal yang tidak bisa ditunda terlalu lama.
“Karena kalau terlalu lama mereka bisa ketinggalan,” kata Susanto dalam media briefing di Jakarta, Selasa (11/8).
Selain AI, korporasi juga melakukan investasi pada cloud dan keamanan siber. Kebutuhan tersebut semakin sulit ditunda karena serangan siber dapat memberikan dampak langsung pada operasional perusahaan.
Susanto memaparkan bahwa saat ini, sektor perusahaan dengan konsumsi IT terbesar meliputi banking & financial services, telekomunikasi, energi, dan supply chain manifacturing.
“Paling besar sih ya banking and financial services, mereka konsumsi IT nya paling besar, sehingga nanti kalau mereka akan menggunakan AI juga paling besar,” ujarnya.
Susanto berharap bahwa perekonomian Indonesia dan kurs semakin stabil agar dapat mengurangi tekanan yang dialami industri.
Saat ini, Metrodata sebagai perusahaan teknologi juga mengalami tekanan di tengah fluktuasi kurs meski pembelian dalam kurs dolar AS sebesar 30 persen. Perusahaan yang berfokus pada layanan distribusi perangkat keras, perangkat lunak, serta solusi digital ini memitigasi fluktuasi kurs dengan melakukan hedging, meski tidak dapat sepenuhnya menutup risiko nilai tukar.
“Sebagian kita lakukan hedging tapi tidak bisa semuanya karena kalau semua di hedging ongkosnya terlalu mahal. Sebagian di hedging sehingga mengurangi dampak kerugian kurs tapi tidak bisa nol,” katanya.
Dengan demikian, pada semester II 2026, perusahaan membidik korporasi yang sedang gencar dalam melakukan spending di bidang IT khususnya AI dan security.
Pada semester I 2026, pertumbuhan laba perusahaan tercatat 6,6 persen menjadi Rp313,7 miliar, angka ini dinilai on track dengan target pertumbuhan laba sebesar 10 persen sepanjang tahun.
Kenaikan laba bersih ditopang pertumbuhan pendapatan perseroan mencapai Rp13,6 triliun pada semester I 2026, naik 16,7 persen (yoy). Unit distribusi masih menjadi penyumbang terbesar pendapatan perseroan dengan kontrubusi 76 persen dari total pendapatan.
