Maybank Marathon 2026 Ditargetkan Dorong Ekonomi Bali Hingga Rp300 M

Jakarta, FORTUNE - PT Bank Maybank Indonesia Tbk (Maybank Indonesia) menargetkan kontribusi ekonomi ajang lari internasional Maybank Marathon 2026 terhadap masyarakat Bali mencapai Rp300 miliar. Event tahunan ini dijadwalkan berlangsung pada 23 Agustus 2026 di Bali United Training Center, Gianyar, Bali.
Project Director Maybank Marathon, Bambang Irawan, optimistis target tersebut dapat tercapai seiring konsistensi peningkatan kualitas penyelenggaraan dan bertambahnya jumlah peserta, tanpa mengorbankan kenyamanan pelari. “Tahun ini merupakan penyelenggaraan Maybank Marathon yang ke-15. Setiap tahun kami selalu melakukan improvement, termasuk dari sisi jumlah peserta,” ujar Bambang, adlam Kick Off Maybank Marathon 2026 di Jakarta, Kamis (8/1).
Pada 2025, Maybank Marathon diikuti 13.600 pelari dari 52 negara, dengan peserta internasional terbanyak berasal dari Malaysia. Untuk 2026, panitia menargetkan penambahan sekitar 500 peserta. Dari sisi komposisi, sekitar 70 persen peserta mengikuti kategori half marathon (HM) dan full marathon (FM), sementara 30 persen berada di kategori 10K. Distribusi ini diperkirakan tidak jauh berbeda pada tahun 2026.
Bambang menjelaskan, dampak ekonomi tidak hanya datang dari jumlah peserta, tetapi juga dari pola belanja dan lama tinggal mereka di Bali. Banyak pelari, terutama dari luar daerah dan luar negeri, datang bersama keluarga dan memperpanjang masa tinggal sebelum atau setelah lomba.
“Biasanya mereka datang tidak sendiri, tapi membawa keluarga. Mereka juga cenderung tinggal lebih lama sebelum atau setelah lomba. Selama di Bali, mereka berbelanja, dan dari situ nilai ekonomi otomatis meningkat,” ujarnya.
Selain itu, penyelenggaraan Maybank Marathon juga melibatkan berbagai industri lokal, mulai dari penyediaan suvenir hingga merchandise yang seluruhnya dipasok dari pelaku usaha di Bali. “Kami memberdayakan UMKM lokal, termasuk untuk kebutuhan suvenir dan merchandise. Itu jelas menambah perputaran ekonomi. Dengan kolaborasi bersama berbagai mitra seperti Visa, e-Journey, dan pihak lainnya, target Rp300 miliar itu realistis untuk dicapai,” kata Bambang.
Tak hanya berorientasi ekonomi, Maybank Marathon juga menempatkan keberlanjutan (sustainability) sebagai salah satu pilar utama. President Director Maybank Indonesia, Steffano Ridwan, menegaskan bahwa ajang ini dirancang sebagai perpaduan antara sport tourism dan prinsip keberlanjutan. “ Ia mencontohkan, Maybank bekerja sama dengan desa-desa sekitar lokasi lomba untuk pengelolaan sampah organik. Program tersebut tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga memberikan nilai ekonomi tambahan karena sampah diolah menjadi produk yang bernilai jual.
“Kami juga punya tradisi penanaman mangrove dan program run for charity, sehingga pelari bisa ikut berkontribusi langsung. Dampaknya menyentuh aspek lingkungan, tata kelola, hingga sosial, dan semuanya positif,” kata Steffano.
Dukungan terhadap Maybank Marathon juga datang dari mitra global. Country Manager Visa Indonesia, Vira Widiyasari, menyebut kolaborasi dengan Visa pada gelaran tahunan ini dilandasi kesamaan nilai antara Visa dan Maybank. “Maybank Marathon sudah menjadi ajang kelas dunia dan bahkan bisa menjadi qualifier untuk mengikuti race internasional. Visa juga berpengalaman bermitra dengan event olahraga ikonik seperti Piala Dunia, Olimpiade, dan Paralimpiade,” ujarnya.
Menurut Vira, olahraga memiliki kekuatan untuk menyatukan komunitas sekaligus menciptakan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar. Karena itu, pemberdayaan ekosistem lokal menjadi bagian penting dari kolaborasi ini. “Ini bukan hanya ajang olahraga, tapi juga platform yang inklusif dan memberdayakan masyarakat lokal. Kami juga ingin membantu menghubungkan Indonesia dengan dunia, sekaligus mendukung solusi transaksi agar peserta dan pendukung bisa fokus pada event, baik untuk peserta dan masyarakat dari dalam maupun luar negeri,” kata Vira.
Dari perspektif industri olahraga, Senior Vice President Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PB PASI), Tigor Tanjung, menilai sport industry, khususnya lari, memiliki efek ekonomi yang semakin luas dari tahun ke tahun. “Perkembangan sportswear ada, equipment olahraga, akomodasi tumbuh, konsultasi gizi, layanan medis, serta meningkatnya kebutuhan pelatih dan tenaga profesional di bidang olahraga, sehingga membuka lapangan pekerjaan. Sekarang orang lari sudah serius, bukan sekadar santai,” ujar Tigor.
Menurut Tigor, kualitas penyelenggaraan lomba lari di Indonesia juga semakin baik, sehingga berdampak positif pada pembentukan gaya hidup sehat sekaligus regenerasi atlet nasional. “Penyelenggara kini semakin sadar bahwa lomba lari punya multiplier effect besar. Karena itu, kualitas event harus dijaga dan ditingkatkan, termasuk dengan menggandeng PB PASI,” ujarnya.
Sebagai gambaran, target kontribusi ekonomi ekonomi yang dibidik Maybank Indonesa tak lepas dari tren pertumbuhan pada tahun sebelumnya. Pada Maybank Marathon 2025, survei yang dilakukan bersama mitra menunjukkan dampak langsung terhadap perekonomian Bali mencapai Rp170,8 miliar, meningkat dibandingkan sekitar Rp125 miliar pada 2024. Kenaikan tersebut sejalan dengan bertambahnya jumlah peserta dari 12.700 pelari pada 2024 menjadi 13.600 pelari pada 2025, serta meningkatnya rata-rata belanja peserta dari sekitar Rp9,8 juta menjadi Rp12,5 juta per orang.
Pengeluaran peserta mencakup akomodasi, konsumsi, transportasi, suvenir, hingga aktivitas wisata. Dampak ekonomi tidak langsung atau multiplier effect juga melonjak, dari sekitar Rp164 miliar pada 2024 menjadi Rp225,5 miliar pada 2025. Selama event berlangsung, pelaku usaha lokal mencatat lonjakan omzet harian dan peningkatan jumlah pelanggan secara signifikan.
Steffano menilai, pertumbuhan tersebut menunjukkan Maybank Marathon semakin diminati, baik oleh pelari domestik maupun internasional. “Jika turut menghitung keluarga dan kerabat peserta yang datang, dampak ekonominya tentu jauh lebih besar. Kami bersyukur ajang ini mampu mendorong perputaran ekonomi yang signifikan di Bali,” ujarnya.
Studi yang sama juga mencatat, rata-rata lama tinggal peserta di Bali meningkat menjadi 5–6 hari, dari sebelumnya 3–4 hari. Mayoritas peserta datang bersama komunitas atau rekan, sekaligus menjelajahi berbagai destinasi wisata, mulai dari alam, petualangan, budaya, hingga kebugaran.
Tingkat kepuasan peserta pun sangat tinggi. Survei pasca-acara menunjukkan 98 persen peserta merasa puas, 95 persen berniat kembali mengikuti Maybank Marathon 2026, dan 98 persen bersedia merekomendasikan ajang ini sebagai salah satu marathon yang wajib diikuti. Dengan rekam jejak tersebut, Maybank Indonesia optimistis Maybank Marathon 2026 tak hanya menjadi ajang olahraga kelas dunia, tetapi juga motor penggerak ekonomi dan keberlanjutan bagi masyarakat Bali.


















