OPEC+ Tetap Pertahankan Rencana Produksi Kendati Venezuela Bergejolak

- OPEC+ mempertahankan rencana produksi minyak tanpa perubahan.
- Pertemuan terjadi di tengah tekanan pasar setelah harga minyak dunia anjlok lebih dari 18 persen pada 2025.
- Delapan negara anggota OPEC+ sepakat menaikkan target produksi sekitar 2,9 juta barel per hari tahun lalu.
Jakarta, FORTUNE - Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak dan sekutunya (OPEC+) memutuskan untuk mempertahankan rencana produksi minyak tanpa perubahan. Langkah tersebut diambil di tengah munculnya gejolak tambahan pada situasi geopolitik global menyusul serangan Amerika Serikat (AS) atas Venezuela.
OPEC+ mengambil keputusan tersebut dalam pertemuan singkat delapan negara anggotanya yang digelar secara daring, Minggu (4/1).
Laporan Reuters, Senin (5/1), menyebut pertemuan ini berlangsung di tengah tekanan pasar setelah harga minyak dunia anjlok lebih dari 18 persen sepanjang 2025, yang merupakan penurunan tahunan terdalam sejak 2020.
Kekhawatiran akan kelebihan pasokan, ditambah melemahnya permintaan selama musim dingin di belahan bumi utara, menjadi latar utama sikap hati-hati OPEC+.
Delapan negara yang terlibat—Arab Saudi, Rusia, Uni Emirat Arab (UEA), Kazakhstan, Kuwait, Irak, Aljazair, dan Oman—sebelumnya telah sepakat menaikkan target produksi sekitar 2,9 juta barel per hari sepanjang 2025. Angka itu setara hampir 3 persen dari permintaan minyak global.
Namun, pada November lalu, kelompok ini memutuskan menunda kenaikan produksi untuk Januari hingga Maret karena kondisi permintaan yang belum pulih.
Keputusan penundaan tersebut kembali ditegaskan dalam pertemuan Minggu kemarin. Seorang delegasi OPEC+ menyebutkan bahwa forum tersebut tidak membahas situasi Venezuela, meski negara Amerika Latin itu tengah dilanda krisis politik besar.
Gejolak di Venezuela mencuat setelah Amerika Serikat pada Sabtu lalu menangkap Presiden Venezuela, Nicolas Maduro. Presiden AS, Donald Trump, menyatakan Washington akan mengambil alih kendali negara tersebut hingga transisi ke pemerintahan baru memungkinkan.
Kondisi ini akhirnya menambah daftar panjang ketidakpastian geopolitik yang membayangi pasar energi global.
Menurut Kepala Analisis Geopolitik Rystad Energy sekaligus mantan pejabat OPEC, Jorge Leon, dinamika pasar minyak saat ini banyak dipengaruhi faktor politik ketimbang fundamental penawaran dan permintaan.
“OPEC+ jelas memprioritaskan stabilitas daripada tindakan,” ujarnya.
Selain isu Venezuela, OPEC+ juga dihadapkan pada tekanan internal dan eksternal lain. Ketegangan antara Arab Saudi dan UEA memanas bulan lalu terkait konflik Yaman yang telah berlangsung lebih dari satu dekade. Apalagi, kelompok yang bersekutu dengan UEA merebut wilayah dari pemerintah yang didukung Saudi.
Krisis ini disebut sebagai perpecahan terbesar dalam beberapa dasawarsa terakhir di antara dua sekutu utama tersebut.
Di sisi lain, ekspor minyak Rusia terus tertekan akibat sanksi AS terkait perang di Ukraina. Iran pun masih dibayangi gelombang protes domestik serta ancaman intervensi dari AS.
Venezuela memiliki cadangan minyak terbesar di dunia, bahkan melampaui Arab Saudi. Namun, produksi minyaknya merosot tajam selama bertahun-tahun akibat salah urus dan sanksi internasional.
Ke depan, delapan negara OPEC+ dijadwalkan kembali bertemu pada 1 Februari mendatang.


















