Jakarta, FORTUNE - PT PLN (Persero) menghadapi tekanan pasokan listrik pada sistem kelistrikan Sulawesi bagian selatan (Sulbagsel) setelah daya mampu sejumlah pembangkit listrik tenaga air (PLTA) anjlok akibat kondisi hidrologi yang dipengaruhi fenomena El Nino.
Penurunan tersebut membuat daya-mampu agregat pembangkit hidro susut sekitar 600 megawatt (MW), dari sebelumnya sekitar 850 MW menjadi 250 MW.
Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, mengatakan penurunan produksi terjadi pada sejumlah pembangkit hidro utama, di antaranya PLTA Poso, Bakaru, Malea, serta beberapa Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro (PLTM). Kondisi tersebut memberikan tekanan tambahan terhadap keseimbangan pasokan dan kebutuhan listrik di Sulbagsel.
“Setiap megawatt sangat berarti dalam kondisi seperti ini. Karena itu, kami membantu mempercepat perbaikan PLTU Jeneponto agar dapat segera kembali masuk ke sistem. Bersamaan dengan itu, kami terus mengoptimalkan pembangkit yang tersedia dan menyiapkan tambahan pasokan,” kata Darmawan dalam keterangannya, Selasa (15/9).
Selain mengoptimalkan pembangkit yang tersedia, PLN menyiapkan tambahan kapasitas hingga 627 MW dan mempercepat perbaikan PLTU Jeneponto berkapasitas 2 x 100 MW yang mengalami gangguan teknis.
Perseroan juga berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan Forkopimda untuk menjalankan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) guna meningkatkan potensi ketersediaan air bagi pembangkit hidro.
Namun, upaya tersebut menghadapi tantangan karena atmosfer yang sangat kering membatasi ketersediaan awan yang dapat disemai.
“Seluruh langkah ini kami jalankan secara paralel. Kami menargetkan pada akhir September 2026 pasokan dan kebutuhan listrik Sulbagsel dapat berangsur seimbang kembali. Prosesnya kami kawal dan evaluasi dari hari ke hari,” kata Darmawan.
Untuk jangka panjang, PLN menyiapkan penguatan sistem Sulbagsel agar tidak terlalu bergantung pada pembangkit hidro dan lebih resilien menghadapi perubahan kondisi pasokan.
Sejalan dengan program PLTS 100 gigawatt (GW), PLN akan memperkuat sistem Sulbagsel dengan sekitar 5,2 GWp pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) serta 8,2 gigawatt hour (GWh) Battery Energy Storage System (BESS).
Kombinasi tersebut diharapkan dapat menjadi penyangga ketika produksi listrik dari pembangkit hidro turun akibat kondisi hidrologi.
“PLTS akan menambah pasokan dari sumber yang tidak bergantung pada air, sementara BESS menjadi penyangga ketika produksi hidro turun. Kombinasi ini akan membuat sistem Sulbagsel lebih beragam, fleksibel, dan resilien,” ujar Darmawan.
