Trump Klaim Perang Iran Akan Berakhir Setelah Pemilu Sela AS

- Trump memprediksi perang AS-Iran yang memasuki bulan ketujuh berakhir setelah pemilu sela AS November 2026, sambil mengklaim Teheran berulang kali menghubungi Washington untuk kesepakatan.
- Konflik meningkatkan ketidakpastian energi: Brent sempat melampaui US$100 per barel, sementara rata-rata bensin AS naik menjadi US$4,31 per galon menurut AAA.
- Iran membantah klaim komunikasi Trump; belum ada kesepakatan konkret. Trump juga tak menjawab soal dugaan keterlibatan AS dalam serangan kapal Iran yang menewaskan satu orang.
Jakarta, FORTUNE – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memperkirakan konflik dengan Iran akan berakhir setelah pemilu sela AS pada November 2026. Pernyataan itu disampaikan ketika ia berada di Irlandia untuk menghadiri turnamen golf Amgen Irish Open, Minggu (13/9).
Trump mengatakan perang yang telah memasuki bulan ketujuh tersebut berpotensi berakhir sebelum pemilu sela, tetapi lebih mungkin selesai setelah pemungutan suara berlangsung.
“Perang ini bisa berakhir sebelum pemilu sela, tetapi akan berakhir setelah pemilu sela,” kata Trump kepada wartawan, dilansir Anadolu Ajansı, Senin (14/9),
Trump juga mengklaim pemerintah Iran berulang kali menghubungi Washington untuk mencari kesepakatan. Namun, ia menegaskan bahwa AS tidak akan menerima perjanjian yang dinilai merugikan kepentingannya.
“Mereka terus menelepon,” ujar Trump. “Saya tidak akan membuat kesepakatan yang tidak bagus.”
Pernyataan tersebut bukan kali pertama Trump mengaitkan berakhirnya perang dengan agenda politik domestik AS. Pada Rabu (9/9/), ia juga memperkirakan konflik akan berakhir “segera setelah” pemilu sela November. Trump juga menyebut Iran tidak akan mampu bertahan lebih lama di bawah tekanan ekonomi AS.
Melansir Reuters, perang tersebut telah meningkatkan ketidakpastian di pasar energi. Harga minyak acuan Brent bahkan sempat menembus US$100 per barel setelah eskalasi serangan terhadap kapal-kapal di sekitar Selat Hormuz. Jalur pelayaran tersebut merupakan salah satu rute penting bagi pengiriman minyak dunia.
Bagi konsumen AS, dampak konflik terlihat dari kenaikan harga bahan bakar. Data American Automobile Association (AAA) menunjukkan harga rata-rata bensin di AS mencapai US$4,31 per galon pada Minggu. Angka itu naik dari US$4,07 per galon sebulan sebelumnya dan US$3,19 per galon pada periode yang sama tahun lalu.
Trump menyatakan harga bahan bakar domestik akan turun tajam setelah perang berakhir. Ia bahkan membuka kemungkinan harga bensin dapat ditekan hingga di bawah US$2 per galon, sebagaimana disampaikan dalam pernyataan sebelumnya.
Klaim Trump mengenai komunikasi antara Teheran dan Washington langsung dibantah oleh Iran. Kantor berita Mehr News Agency menyebut pernyataan tersebut sebagai sesuatu yang “absurd”.
Iran menilai klaim itu merupakan upaya Trump untuk mengalihkan perhatian dari tekanan ekonomi di dalam negeri AS, yang salah satunya dipicu oleh kenaikan harga energi akibat konflik.
Di tengah perbedaan pernyataan tersebut, belum terdapat kepastian mengenai adanya kesepakatan konkret antara AS dan Iran untuk mengakhiri perang. Trump memang menyatakan terbuka terhadap perundingan, tetapi pada saat yang sama tetap menekankan bahwa setiap kesepakatan harus memberikan keuntungan bagi Washington.
Trump juga kembali menegaskan bahwa salah satu tujuan utama operasi militer AS terhadap Iran adalah mencegah negara tersebut memiliki senjata nuklir. “Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir, dan mereka tidak akan memiliki senjata nuklir,” kata Trump.
Trump tidak menanggapi soal serangan kapal Iran
Trump juga enggan menanggapi mengenai serangan mematikan terhadap sebuah kapal komersial Iran di perairan Teluk, dekat Pulau Qeshm, Iran selatan, pada Minggu pagi. Serangan tersebut menewaskan satu orang dan melukai tiga lainnya. Ketika ditanya apakah Washington bertanggung jawab atas insiden itu, Trump tidak memberikan jawaban secara langsung.
“Saya tidak ingin mengatakan,” ujarnya.
Seorang pejabat setempat sebelumnya menyebut serangan tersebut dilakukan oleh AS. Namun, belum ada penjelasan terbuka yang dapat memastikan tanggung jawab Washington atas insiden tersebut.
Trump juga menanggapi hubungan diplomatik antara negara-negara Teluk dan Iran. Ia mengatakan tidak keberatan apabila negara-negara tersebut tetap berkomunikasi dengan Teheran. “Itu terserah mereka,” kata Trump.
Meski demikian, Trump kemudian menyampaikan kemungkinan AS mempertahankan kehadirannya di kawasan untuk mengendalikan sumber daya energi.
“Kami pada akhirnya akan keluar, kecuali kami memutuskan untuk tetap tinggal dan menguasai minyak, seperti Venezuela,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menambah ketidakpastian mengenai arah kebijakan AS di Timur Tengah. Di satu sisi, Trump memproyeksikan perang berakhir setelah pemilu sela pada November. Di sisi lain, kemungkinan mempertahankan kendali atas sumber energi menunjukkan bahwa berakhirnya operasi militer belum tentu diikuti dengan berakhirnya keterlibatan strategis Washington di kawasan.





















