Jakarta, FORTUNE – Menteri Perdagangan (Mendag), Budi Santoso, mempercepat pengesahan Indonesia–Peru Comprehensive Economic Partnership Agreement (IP-CEPA) sebagai strategi membuka akses produk Indonesia ke pasar Amerika Latin. Pemerintah menilai Peru dapat menjadi pintu gerbang bagi ekspor nasional menuju kawasan dengan potensi pasar mencapai 649 juta penduduk.
Hal itu disampaikan Budi saat rapat kerja dengan Komisi VI DPR RI mengenai rencana pengesahan IP-CEPA, Kamis (16/7). Menurutnya, kerja sama tersebut tidak hanya memperluas akses pasar ekspor, tetapi juga memperkuat ketahanan ekonomi nasional melalui peningkatan investasi dan penciptaan lapangan kerja.
"IP-CEPA merupakan kerja sama yang strategis untuk memperluas akses pasar ke kawasan Amerika Latin dan memperkuat ketahanan ekonomi nasional, sekaligus meningkatkan ekspor nasional, membuka peluang investasi, serta mendorong penyerapan tenaga kerja di dalam negeri," ujar Budi dikutip dari keterangannya, Jumat (17/7).
Budi mengatakan Peru memiliki posisi strategis karena menjadi salah satu pintu masuk menuju pasar Amerika Selatan. Negara tersebut juga merupakan anggota Pacific Alliance dan Comprehensive and Progressive Agreement for Trans-Pacific Partnership (CPTPP), sehingga dapat menjadi hub distribusi produk Indonesia ke kawasan lebih luas.
Pemerintah mendorong agar IP-CEPA segera diratifikasi melalui Peraturan Presiden sehingga manfaat ekonomi dari perjanjian tersebut dapat segera dirasakan oleh pelaku usaha.
"Percepatan ratifikasi dan implementasi IP-CEPA menjadi krusial agar potensi manfaat ekonominya segera dirasakan," katanya.
Budi mengungkapkan hubungan dagang Indonesia dan Peru terus menunjukkan kinerja positif dalam beberapa tahun terakhir.
Sepanjang Januari–Mei 2026, nilai ekspor Indonesia ke Peru mencapai US$225,77 juta, sedangkan impor dari Peru US$38,24 juta. Dengan demikian, Indonesia membukukan surplus perdagangan US$187,53 juta.
Sementara itu, sepanjang 2025 ekspor Indonesia ke Peru mencapai US$462,97 juta, sedangkan impor US$104,44 juta, sehingga surplus perdagangan mencapai US$358,54 juta.
Dalam periode 2021–2025, total perdagangan kedua negara tumbuh rata-rata 5,51 persen, dengan tren ekspor meningkat 4,60 persen dan tren surplus perdagangan tumbuh 2,42 persen.
"Hal ini menunjukkan produk Indonesia telah memiliki daya saing di pasar Peru," ujarnya.
Menurut Budi, struktur perdagangan kedua negara juga saling melengkapi sehingga tidak menimbulkan persaingan langsung dengan industri domestik. Produk utama yang diekspor Indonesia meliputi kendaraan bermotor dan suku cadang, alas kaki, serta peralatan pendingin.
Sebaliknya, Indonesia mengimpor biji kakao, pupuk mineral, dan berbagai komoditas pertanian dari Peru.
