Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install

Penurunan Kelas Menengah Kian Nyata, Masyarakat Mulai "Makan Utang"

Penurunan Kelas Menengah Kian Nyata, Masyarakat Mulai "Makan Utang"
Chief Economist Permata Bank Josua pardede saat menyampaikan pandangannya di Dialog Otomotif Nasional bertajuk "The Right Fit for Indonesia: Teknologi Elektrifikasi Seperti Apa yang Dibutuhkan Indonesia?" pada ajang GAIKINDO Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026 di ICE BSD City, Tangerang, Rabu (5/8). (Eko Wahyudi/Fortune Indonesia).
Intinya Sih
  • Kelas menengah Indonesia menyusut hampir 11 juta orang sepanjang 2019-2025, dengan tekanan biaya hidup mendorong pergeseran pola bertahan dari memakai tabungan menjadi berutang.
  • Ekonomi tumbuh 5,29 persen secara tahunan pada kuartal II-2026, tetapi kenaikan biaya energi, kebutuhan nonmakanan, dan kerja informal membatasi daya beli masyarakat.
  • Kepercayaan konsumen menurun, pembelian rumah dan barang tahan lama ditunda; kualitas kredit konsumsi memburuk saat loan at risk tumbuh 10,3 persen, melampaui kredit lancar 5,6 persen.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Tangerang, FORTUNE – Sinyalemen penyusutan kelas menengah di Indonesia kian nyata di tengah impitan biaya hidup yang terus melonjak. Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede, mengungkapkan kelompok kelas menengah kini mengalami pergeseran pola bertahan hidup, dari fenomena "makan tabungan" (mantap) menjadi "makan utang" (matang).

Gejala keprihatinan ini disampaikan Josua dalam Dialog Otomotif Nasional pada ajang GAIKINDO Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026 di ICE BSD City, Tangerang, Rabu (5/8).

Penyusutan populasi kelas menengah tersebut berlangsung signifikan dalam kurun enam tahun terakhir. Kemerosotan daya beli menjadi faktor pemacu utama.

"Jumlah kelas menengah dari 2019 sampai 2025 sudah turun hampir 11 juta orang," ujarnya.

Josua menegaskan, kondisi ekonomi saat ini memberikan tekanan berat bagi kalangan menengah. Penurunan tingkat kesejahteraan tidak terelakkan.

"Fenomena ini tidak bisa kita pungkiri. Kelompok masyarakat kelas menengah masih struggling dengan kondisi ekonomi saat ini," kata Josua.

Kondisi riil masyarakat berkebalikan dengan laju pertumbuhan ekonomi nasional. Walau perekonomian masih tumbuh di atas 5 persen, manfaatnya belum merembes secara riil ke lapisan masyarakat menengah.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia melandai menjadi 5,29 persen secara tahunan (yoy) pada kuartal II-2026. Angka ini lebih rendah dibandingkan capaian kuartal I-2026 yang sebesar 5,61 persen.

"Pertanyaannya, apakah dampaknya dapat dirasakan secara riil oleh masyarakat? Mungkin belum juga," kata Josua.

Tekanan terhadap daya beli bersumber dari perpaduan faktor global dan domestik. Gejolak konflik di Timur Tengah mengerek harga minyak mentah dunia. Hal itu memicu lonjakan biaya ekonomi secara luas.

Di dalam negeri, harga Pertamax memang mulai turun pada Agustus. Namun, beban pengeluaran rumah tangga tetap tinggi.

Data BPS menunjukkan porsi pengeluaran nonmakanan terus membesar. Rumah tangga harus mengalokasikan dana lebih besar untuk pajak, asuransi, sewa rumah, listrik, gas, hingga internet. Ruang gerak belanja masyarakat pun makin terbatas.

Di sisi pekerjaan, pergeseran tenaga kerja ke sektor informal kian marak. Kenaikan pendapatan masyarakat gagal mengimbangi laju kenaikan biaya hidup.

Kondisi ini diperparah oleh penurunan Indeks Kepercayaan Konsumen secara beruntun sejak kuartal IV-2025 hingga kuartal II-2026. Masyarakat menjadi sangat berhati-hati dalam membelanjakan uang.

Kepastian kerja menjadi kunci utama pemulihan. Tanpa jaminan lapangan kerja, masyarakat enggan melakukan pemenuhan kebutuhan barang tahan lama.

"Ketersediaan lapangan pekerjaan menjadi sangat penting. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi tanpa penyerapan tenaga kerja sama saja bohong. Kalau masyarakat tidak memiliki kepastian pekerjaan, maka belanja untuk barang-barang tahan lama juga akan terpengaruh," katanya.

Sikap defensif konsumen kian kentara. Masyarakat lebih memilih menabung ketimbang berbelanja. Selain itu, proporsi rumah tangga yang menunda rencana membeli atau membangun rumah dalam 12 bulan ke depan terus bertambah sejak awal 2026.

Sektor perbankan juga merekam gejala ketimpangan yang tajam. Data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mencatat pertumbuhan tabungan bersaldo di bawah Rp100 juta relatif lambat. Sebaliknya, simpanan bersaldo Rp2 miliar hingga Rp5 miliar tumbuh jauh lebih cepat.

Rata-rata saldo tabungan masyarakat saat ini berada di kisaran Rp1,7 juta. Lonjakan jumlah rekening baru membuat rata-rata saldo kelompok bawah tidak bertambah signifikan. Sebaliknya, pertumbuhan nilai nominal simpanan kelompok kaya melaju cepat tanpa diikuti pertambahan jumlah rekening yang besar.

Kerentanan finansial konsumen turut tecermin pada penurunan kualitas kredit konsumsi. Data menunjukkan loan at risk (LAR) kredit konsumsi tumbuh sekitar 10,3 persen secara tahunan. Angka ini melampaui laju pertumbuhan kredit lancar yang hanya mencapai 5,6 persen.

"Artinya kualitas kredit memburuk lebih cepat dibandingkan pertumbuhan portofolio kredit. Ini mengindikasikan kondisi keuangan konsumen, terutama kelas menengah, sedang mengalami tekanan," ujarnya.

Share Article
Editorial Team

Latest in News

See More