Jakarta, FORTUNE – Kenaikan harga Pertamax menjadi Rp16.250 per liter membetot perhatian publik. Di tengah keluhan konsumen terhadap kenaikan tersebut, PT Pertamina Patra Niaga mengungkap harga ekonomi bahan bakar beroktan 92 itu sebenarnya jauh lebih tinggi dibandingkan harga yang berlaku di Indonesia saat ini.
Vice President Commercial & Shipping Business Development Pertamina Patra Niaga, Sigit Setiawan, mengatakan lonjakan harga minyak dan bahan bakar global akibat ketegangan geopolitik telah mendorong harga bensin RON 92 di pasar internasional menembus kisaran Rp20.000-21.000 per liter.
“Ini adalah fluktuasi harga dari bulan ke bulan dan di mana market itu sewajarnya harganya berapa dan di Indonesia market-nya berapa,” kata Sigit dalam acara Sarasehan Energi bertajuk Transisi Energi dalam Memitigasi Konflik Global yang dikutip dari kanal YouTube Dewan Energi Nasional, Rabu (10/6).
Menurut dia, harga Pertamax di Indonesia selama ini berada jauh di bawah harga pasar internasional. Sebagai perbandingan, harga bensin setara RON 91 di Thailand mencapai sekitar Rp23.000 per liter setelah dikonversi ke rupiah.
“Kita masih bisa menahan harga Pertamax di Rp12.300 per liter dalam beberapa waktu terakhir,” katanya.
Meski berstatus sebagai Jenis Bahan Bakar Umum (JBU) atau BBM non-subsidi yang secara regulasi dapat ditetapkan berdasarkan harga ekonomi, Pertamina mengaku tidak serta merta menyesuaikan harga mengikuti pasar.
Sigit mengatakan perusahaan selalu berkoordinasi dengan pemerintah sebelum mengambil keputusan penyesuaian harga karena dampaknya yang luas terhadap daya beli masyarakat dan aktivitas ekonomi.
“Kalau harga energi naik, biaya produksi usaha juga naik. Pada akhirnya akan diteruskan ke harga jual barang dan jasa. Efek dominonya bisa memengaruhi inflasi dan pertumbuhan ekonomi,” ujarnya.
Karena itu, Pertamina memilih menahan kenaikan harga selama beberapa bulan meskipun biaya pengadaan BBM terus meningkat. Namun, menurut Sigit, kebijakan tersebut tidak bisa dilakukan tanpa batas waktu.
Ia menjelaskan Pertamina membeli sebagian pasokan BBM dengan harga tinggi di pasar internasional. Jika harga jual domestik terlalu jauh di bawah biaya pengadaan, kemampuan perusahaan untuk menjaga pasokan akan terganggu.
“Kalau beli barang Rp10.000 lalu dijual Rp7.000 atau Rp8.000, uang yang didapat untuk membeli kembali barang itu tentu lebih kecil. Logikanya sama dengan energi. Kalau terus dijual di bawah harga perolehan, volume yang bisa dibeli kembali akan berkurang,” katanya.
Kondisi tersebut berpotensi mengganggu ketahanan stok energi nasional. Pertamina mengaku tidak ingin menghadapi situasi saat pasokan BBM menurun ketika konsumsi sedang tinggi.
Karena itu, setelah melalui diskusi dan konsultasi dengan pemerintah, Pertamina akhirnya menaikkan harga Pertamax menjadi Rp16.250 per liter.
“Kalau dibandingkan harga di negara lain yang sudah mendekati Rp20.000 per liter, harga kita masih lebih rendah,” ujar Sigit.
Ia menegaskan penyesuaian harga dilakukan untuk menjaga keseimbangan antara keterjangkauan bagi masyarakat dan keberlanjutan pasokan energi nasional. Menurutnya, ketersediaan BBM di pasar tetap menjadi prioritas utama Pertamina di tengah tingginya volatilitas harga energi global.
“Kami ingin memberikan pesan bahwa penyesuaian ini memang perlu dilakukan karena kami harus memastikan ketersediaan energi tetap terjaga di pasar,” katanya.
