Suahasil Optimistis Ekonomi Indonesia Tumbuh di Atas 5,5% pada Semester II 2026

Suahasil Nazara optimistis ekonomi Indonesia tumbuh di atas 5,5 persen pada semester II 2026.
Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi mencapai 6 persen pada 2027.
Inflasi, pertumbuhan ekonomi, dan kredit menjadi indikator yang perlu dijaga, sementara risiko datang dari konflik global dan El Nino.
Jakarta, FORTUNE - Menteri Keuangan Suahasil Nazara optimistis bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di atas 5,5 persen pada semester II 2026.
“Proyeksi pertumbuhan kita masih lihat bahwa saya yakin di Q3, Q4, di setengah tahun kedua ini, kita masih bisa tumbuh di atas 5,5 persen. Dan ini merupakan pertumbuhan yang cukup baik,” ujar Suahasil di Jakarta, Kamis (25/9).
Suahasil mengatakan bahwa pemerintah menargetkan bahwa pertumbuhan ekonomi dapat mencapai level 6 persen pada tahun 2027, dengan mempertimbangkan kondisi perekonomian dunia dan gerak ekonomi Indonesia. Hal ini tertuang dalam Rancangan APBN Tahun Anggaran 2027.
Menurutnya, terdapat beberapa aspek yang perlu dijaga agar ekonomi tetap resilien yakni tingkat inflasi tidak melebihi 3,19 persen seperti pada Agustus 2026. Selain itu, pertumbuhan ekonomi juga dijaga agar tidak kurang dari 5,45 persen, dan pertumbuhan kredit dijaga sekitar 13 persen.
“Ini adalah indikator-indikator yang baik buat fundamental kita. juga APBN-nya berjalan dengan baik, dengan yang selalu tiap bulan kita lakukan,” kata Suahasil.
Pada kuartal I 2026, pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,61 persen, dan kuartal II 2026 turun menjadi 5,29 persen. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi pada semester I 2026 tercatat sebesar 5,45 persen.
Lembaga internasional Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 5,2 persen atau naik 0,5 poin persen pada laporan terbarunya OECD Economic Outlook Interim Report yang terbit September 2026.
Sementara itu, Asian Development Bank (ADB) mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 5,2 persen pada 2026. Meski demikian, ADB memperkirakan inflasi naik dari 3,0 persen menjadi 3,3 persen pada 2026. ADB dalam risetnya mengidentifikasi dua risiko utama yang menekan pertumbuhan ekonomi di kawasan Asia yakni melebarnya konflik Timur Tengah dan El Nino.
Melebarnya konflik Timur Tengah dan meningkatnya intensitas perang Rusia di Ukraina dapat mengakibatkan harga energi global tetap tinggi dan bergelokal, sekaligus menyeret gejolak harga pada komoditas lain. Sementara itu, El Nino yang sangat kuat diperkirakan berlangsung hingga kuartal I 2027. Hal ini dapat meningkatkan permintaan energi dan menurunkan produksi pertanian, yang berimbas naiknya harga BBM dan harga pangan.


















