Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
PLN EPI Alirkan Gas Hasil Pemangkasan Singapura ke Batam Hari Ini
Teknisi Gas alam, ketika mengontrol pipa saluran arus Gas, foto-ilustrasi.
  • PLN EPI mulai mengalirkan gas Natuna ke Batam dengan laju awal bertahap hingga 15 MMSCFD menuju Tanjung Uncang.

  • Pasokan alternatif ini ditujukan menjaga keandalan pembangkit Batam saat pemeliharaan fasilitas Jambi Merang.

  • Pipa WNTS–Pemping berkapasitas desain 300 MMSCFD dan disiapkan untuk pasokan jangka panjang.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, FORTUNE - PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) mulai mengalirkan gas bumi dari Natuna ke Batam melalui pipa West Natuna Transportation System (WNTS)–Pemping pada Selasa (27/10).

Pasokan ini menjadi jalur alternatif menjaga keandalan pembangkit listrik di Batam di tengah penguatan pemanfaatan gas domestik.

Pengaliran gas dimulai pada pukul 00.25 WIB. PLN EPI kemudian meningkatkan laju alir secara bertahap atau ramping up hingga mencapai 15 juta standar kaki kubik per hari (million standard cubic feet per day/MMSCFD) menuju Tanjung Uncang pada pukul 01.01 WIB.

Pelaksana Harian Direktur Utama PLN EPI, Rakhmad Dewanto, mengatakan pengaliran tersebut merupakan tindak lanjut penugasan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk membangun dan mengoperasikan infrastruktur pipa WNTS–Pemping.

"Konektivitas WNTS–Pemping membuka akses pemanfaatan gas bumi dalam negeri untuk memperkuat keandalan pembangkit serta mendukung kebutuhan listrik masyarakat dan dunia usaha," kata Rakhmad dalam keterangan tertulis, Selasa (27/10).

Dalam jangka pendek, pasokan gas dari Natuna diharapkan membantu memenuhi kebutuhan pembangkit PLN Batam selama pemeliharaan terencana (turnaround) fasilitas Jambi Merang pada 24 Oktober hingga 3 November 2026. Jalur pasokan alternatif tersebut memberikan fleksibilitas bagi pengelolaan energi primer sekaligus menjaga kesinambungan operasional pembangkit listrik di Batam.

Pengaliran gas ini juga berlangsung di tengah upaya pemerintah memperkuat pemanfaatan gas bumi untuk kebutuhan domestik. Sebelumnya, pemerintah menyampaikan rencana pemangkasan pasokan gas ke Singapura guna mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya energi di dalam negeri.

Infrastruktur WNTS–Pemping menjadi salah satu penghubung penting dalam upaya tersebut. Pipa sepanjang 4,5 kilometer dengan diameter 16 inci itu menghubungkan jaringan pipa WNTS dengan fasilitas penerima gas atau Onshore Receiving Facility (ORF) di Pulau Pemping, Kepulauan Riau. Kapasitas desainnya mencapai 300 MMSCFD, jauh di atas aliran awal 15 MMSCFD.

Direktur Gas dan BBM PLN EPI, Erma Melina Sarahwati, mengatakan koordinasi lintas pemangku kepentingan menjadi faktor penting memastikan setiap tahapan pekerjaan berlangsung dengan mengutamakan keselamatan, keandalan, dan kepatuhan terhadap ketentuan berlaku.

"Kolaborasi ini menjadi kunci keberhasilan pengaliran gas Natuna untuk mendukung keandalan kelistrikan Batam," kata Erma.

Dari sisi perizinan, PLN EPI telah memperoleh Hak Khusus Pengangkutan Gas Bumi Melalui Pipa dari Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) berdasarkan Keputusan Nomor 088/KT.KOM/BPH.DGB/2026 yang berlaku hingga 17 Oktober 2046.

Perusahaan juga telah mengantongi Izin Usaha Sementara Pengangkutan Gas Bumi Melalui Pipa dari Kementerian ESDM yang diterbitkan pada 26 Oktober 2026.

Kedua persetujuan tersebut memperkuat kepastian pengusahaan infrastruktur WNTS–Pemping. Pengoperasian jalur ini juga menjadi bagian dari transformasi PLN EPI dari penyedia energi primer menjadi penyedia solusi energi primer terintegrasi.

Ke depan, infrastruktur WNTS–Pemping disiapkan untuk mendukung pasokan gas jangka panjang bagi pembangkit listrik. Salah satu sumbernya berasal dari Perjanjian Jual Beli Gas Bumi (PJBG) dengan West Natuna Exploration Limited (WNEL) yang ditandatangani pada 11 Juli 2025.

Melalui perjanjian tersebut, gas dari Lapangan Mako di Wilayah Kerja Duyung direncanakan mulai mengalir pada 2027 dengan volume 111 MMSCFD selama delapan tahun.

Pasokan ini berpotensi memperkuat ketersediaan gas untuk kebutuhan domestik setelah lapangan tersebut mulai berproduksi dan penyalurannya berjalan sesuai rencana.

Pengaliran gas Natuna ke Batam melibatkan dukungan Kementerian ESDM, Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi, BPH Migas, SKK Migas, PT PLN (Persero), PT PLN Batam, produsen gas di wilayah Natuna, PT Transportasi Gas Indonesia, PT Medco E&P Natuna Ltd., PT Perusahaan Gas Negara Tbk., PT Pelayanan Energi Batam, dan PT Batam Trans Gasindo.

Curated For You

Editorial Team

Related Article