Jakarta, FORTUNE - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memaparkan defisit dalam rancangan anggaran pendapatan dan belanja negara tahun 2027 yakni 2,4 persen dari produk domestik bruto (PDB).
Proyeksi ini lebih rendah dibandingkan outlook defisit APBN tahun 2026 yakni 2,86 persen dari PDB. “Yang jelas untuk postur anggaran, defisitnya diproyeksikan mencapai 2,4 perse dari PDB, pendapatannya tumbuh cukup,” kata Purbaya dalam konferensi pers RAPBN dan Nota Keuangan Tahun Anggaran 2027 di Jakarta, Jumat (14/8).
Sementara itu, pendapatan negara diproyeksikan mencapai Rp3.426 triliun atau tumbuh 6,8 persen dari outlook 2026 dengan rasio 12,25 persen dari PDB. Target pendapatan tersebut sebagai bagian dari upaya memperkuat kapasitas fiskal secara bertahap dan berkelanjutan.
Proyeksi penerimaan perpajakan diperkirakan mencapai Rp2.908 triliun, penerimaan negara bukan pajak sebesar Rp517,4 triliun, dan hibah sebesar Rp0,7 triliun.
“Jadi perpajakan harusnya akan lebih bagus dibanding tahun-tahun sebelumnya. Sampai dengan data terakhir hari ini pertumbuhan pengumpulan pajak kita sudah mencapai 30 persen,” ujarnya.
Di samping itu, belanja pemerintah pusat diproyeksikan mencapai Rp3.362,2 triliun atau tumbuh 3,6 persen dari outlook 2026. Kebijakan belanja pemerintah pusat ini ditempuh mendukung pencapaian target PKPN tahun 2027.
“Jadi fiskal kita tetap dirancang untuk ekspansif walaupun tidak besar sekali. Tapi yang jelas dari pemerintah akan ada dorongan ke perekonomian,” kata Purbaya.
Selain itu, belanja pemerintah pusat akan dioptimalisasi untuk mendukung kebijakan pemerintah, mendorong pertumbuhan ekonomi, peningkatan kualitas layanan publik dan SDM, serta menjaga daya peninggalan masyarakat.
Pemerintah juga akan mendorong pembangunan sarana dan prasana yang mendukung pencapaian prioritas nasional.
“Kita juga mengakselerasikan penurunan kemiskinan dan pengapusan kemiskinan ekstrim berbasis data sen, serta penguatan program graduasi kemiskinan dan juga menajamkan akurasi data penerimaan subsidi dan bansos akar agar lebih tetap tepat sasaran,” ujar Purbaya.
Sementara itu, ekonomi RI juga diperkirakan dapat tumbuh sekitar 6 persen pada tahun 2027.
“Jadi perekonomian dunia di tahun 2027 dipikirkan masih akan dihadapkan pada dinamika yang kompleks dengan tingkat ketidakpastian yang tinggi, tapi kita sudah punya pengalaman yang cukup dan kita sudah praktikan bahwa kita pemerintah bisa mengeluarkan respon kebijakan yang cukup baik yang bisa mengurangi dampak ketidakpastian global terhadap perekonomian Indonesia,” kata Purbaya.
