Rosan Prediksi Investasi Sektor Bauksit Bakal Melonjak Signifikan
Kementerian Investasi memproyeksikan lonjakan investasi bauksit seiring dimulainya proyek hilirisasi.
Realisasi investasi hilirisasi triwulan I-2026 mencapai Rp147,5 triliun atau 29,6 persen dari total nasional.
Hilirisasi bauksit difokuskan pada produksi Smelter Grade Alumina dan Chemical Grade Alumina.
Jakarta, FORTUNE - Di tengah keriuhan investasi mineral yang selama ini tersedot ke sektor nikel, angin segar mulai berembus ke arah komoditas bauksit. Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) memproyeksikan sektor ini bakal menjadi primadona baru, menyusul bergulirnya sejumlah proyek pengolahan di dalam negeri yang menjanjikan nilai tambah tinggi.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan Roeslani, tak menampik bahwa saat ini panggung utama masih dikuasai nikel. Indonesia pun berdiri di atas takhta pemilik 42 persen cadangan nikel dunia.
āYang hilirisasi itu paling banyak di nikel, sehingga masih menjadi penunjang terbesar foreign direct investment (FDI) yang masuk,ā ujar Rosan dalam konferensi pers secara virtual, Kamis (23/4).
Meski tembaga, besi, dan baja terus mengekor di belakang nikel, Rosan mencermati adanya pergeseran tren. Bauksit, yang dalam beberapa waktu terakhir tampak tertinggal dalam rantai nilai hilirisasi, kini mulai menunjukkan taji.
āBauksit ini akan meningkat di tahun-tahun berikutnya karena investasi hilirisasinya baru mulai berjalan. Saya melihat nanti bauksit juga akan meningkat cukup signifikan,ā katanya.
Optimisme tersebut bukan tanpa dasar angka. Menilik potret makro, realisasi investasi hilirisasi pada triwulan I-2026 telah menyentuh Rp147,5 triliun atau menyumbang 29,6 persen dari total investasi nasional. Performa ini tumbuh meyakinkan sebesar 8,2 persen jika dibandingkan dengan periode sama pada tahun sebelumnya yang tertahan pada Rp136,3 triliun.
Dilihat dari peta pemodal, Singapura masih memegang kendali sebagai kontributor utama dengan kucuran Rp35,9 triliun. Di belakangnya, menyusul Hong Kong dengan Rp22,9 triliun dan Cina Rp17,6 triliun.
Sementara itu, Jepang dan Amerika Serikat masing-masing menyetorkan Rp4,6 triliun dan Rp4,3 triliun demi memperkuat struktur hilirisasi di Tanah Air.
Jika dibedah per sektor, mineral tetap menjadi tulang punggung dengan realisasi Rp98,3 triliun. Nikel masih mendominasi dengan Rp41,5 triliun, disusul tembaga Rp20,7 triliun, dan besi baja Rp17 triliun. Investasi bauksit saat ini mencapai Rp13,7 triliun. Angka ini diyakini bakal segera terkerek.
Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menunjukkan Indonesia menyimpan cadangan bijih bauksit sekitar 3,1 miliar ton, atau setara 10 persen dari cadangan global. Fokus hilirisasi kini diarahkan pada transformasi menjadi Smelter Grade Alumina (SGA) dan Chemical Grade Alumina (CGA), sebelum akhirnya bermuara menjadi aluminium.
Produk akhir ini memiliki nilai strategis yang menentukan bagi industri manufaktur global, mulai dari komponen otomotif, badan pesawat terbang, jaringan kabel listrik, hingga kebutuhan konstruksi.
Gayung pun bersambut. Kabar santer menyebutkan Tsingshan Holding Group tengah duduk di meja perundingan dengan raksasa komoditas dunia seperti Mercuria Energy Group, Glencore, dan Trafigura Group. Misi mereka satu: mengamankan investasi smelter aluminium anyar senilai US$3 miliar di Indonesia.

















