Jakarta, FORTUNE – Indonesia Investment Authority (INA) mencatat peningkatan skor tata kelola dalam Governance, Sustainability and Resilience (GSR) Scoreboard 2026 yang diterbitkan Global SWF. Lembaga pengelola investasi negara tersebut meraih skor 92 persen naik dari 68 persen pada tahun sebelumnya, sekaligus menempatkannya sebagai sovereign wealth fund (SWF) dengan peringkat tertinggi kedua di Asia.
GSR Scoreboard merupakan penilaian tahunan yang dilakukan Global SWF, platform riset independen yang memantau sovereign wealth fund dan lembaga pengelola investasi di berbagai negara. Penilaian mencakup sekitar 200 lembaga investasi milik negara, termasuk SWF dan public pension funds (PPF), berdasarkan 25 indikator yang mengukur aspek tata kelola, keberlanjutan, dan ketahanan institusi.
Ketua Dewan Pengawas INA, Purbaya Yudhi Sadewa, mengatakan peningkatan skor tersebut menunjukkan konsistensi lembaga dalam menerapkan tata kelola yang mendukung mandat investasi jangka panjang. Bagi sebuah sovereign wealth fund dengan mandat jangka panjang, konsistensi peningkatan GSR Score ini menegaskan bahwa keputusan investasi INA dilakukan secara prudent, independen, akuntabel, serta selaras dengan mandat institusi.
"Penerapan tata kelola yang baik, prinsip keberlanjutan, dan ketahanan kelembagaan merupakan fondasi yang penting dalam melindungi modal yang dikelola sekaligus menjaga kepercayaan para pemangku kepentingan untuk menciptakan nilai ekonomi yang berkelanjutan bagi Indonesia," ujar Purbaya dalam keterangan resmi, Rabu (29/7).
Ia menambahkan bahwa penilaian independen seperti GSR Scoreboard menjadi tolok ukur eksternal untuk memperkuat kelembagaan. Menurutnya, Dewan Pengawas akan terus memastikan INA menjalankan mandatnya dengan integritas, profesionalisme, dan disiplin.
Ketua Dewan Direktur INA, Oki Ramadhana, menyebut capaian tersebut menjadi dorongan bagi institusi untuk terus meningkatkan kualitas tata kelola seiring berkembangnya ekspektasi terhadap sovereign wealth fund di tingkat global.
“Hasil yang kami capai tahun ini menjadi penyemangat bagi kami untuk terus berkembang. Pada saat yang sama, kami menyadari bahwa membangun institusi yang dipercaya merupakan sebuah perjalanan yang berkelanjutan, bukan tujuan akhir," katanya.
Dia menambahkan, ekspektasi terhadap sovereign wealth fund terus berkembang, dan institusinya pun harus terus beradaptasi. Untuk itu, INA berstrategu terus memperkuat tata kelola, transparansi, praktik keberlanjutan, serta ketahanan organisasi, sekaligus terus menyempurnakan berbagai aspek yang masih dapat ditingkatkan sebagai bagian dari komitmen INA terhadap investasi yang bertanggung jawab, penciptaan nilai jangka panjang, dan penerapan standar tata kelola institusi yang tinggi.
Global SWF memperkenalkan GSR Scoreboard pada 2020 sebagai instrumen untuk mengukur transparansi, akuntabilitas, investasi yang bertanggung jawab, serta ketahanan institusi investor milik negara. Pada edisi 2026, lembaga tersebut memperbarui sejumlah indikator penilaian, antara lain kinerja investasi terhadap benchmark pada aspek governance, metrik ESG dan intensitas karbon pada aspek sustainability, serta investasi maupun adopsi kecerdasan buatan (AI) pada aspek resilience.
Dengan metodologi terbaru tersebut, rata-rata skor GSR global meningkat menjadi 60 persen. Global SWF juga memperkirakan investor milik negara di seluruh dunia mengelola aset senilai sekitar US$62,5 triliun. Di kawasan Asia, terdapat 49 investor negara yang masuk dalam penilaian dengan rata-rata skor 51 persen, naik dari 36 persen pada 2020.
Sejak berdiri, skor GSR INA terus meningkat, dari 24 persen pada 2021, menjadi 52 persen pada 2022, 56 persen pada 2023, 60 persen pada 2024, 68 persen pada 2025, hingga mencapai 92 persen pada 2026. Perseroan menyebut peningkatan tersebut didukung oleh penguatan kualitas pengungkapan informasi, penyempurnaan Laporan Tahunan 2025, serta berbagai perbaikan pada aspek yang sebelumnya menjadi masukan dalam evaluasi GSR.
Chief Legal Counsel INA, Arisia Pusponegoro, mengatakan penguatan tata kelola tidak berhenti pada penyusunan kebijakan, tetapi juga pada penerapannya secara konsisten.
Menurutnya, tata kelola bukan hanya tentang memiliki kebijakan yang tepat. Yang sama pentingnya adalah memastikan bahwa prinsip-prinsip tata kelola diterapkan secara konsisten dalam setiap proses pengambilan keputusan, pengawasan risiko, transparansi, dan akuntabilitas.
"Seiring dengan terus berkembangnya standar tata kelola global, kerangka institusi tidak bersifat statis dan memerlukan penyempurnaan secara berkelanjutan agar tetap relevan, efektif, serta selaras dengan standar internasional yang diakui dan praktik terbaik di industri," kata Arisia.
