Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Stabilisasi Rupiah, Cadangan Devisa RI Anjlok Jadi US$144,9 Miliar
"Ilustrasi" Rupiah melemah. (Foto dibuat oleh Artificial Intelligence)
  • Cadangan devisa Indonesia turun US$1,3 miliar menjadi US$144,9 miliar pada akhir Mei 2026 akibat kebijakan stabilisasi rupiah dan permintaan valuta asing musiman.
  • Bank Indonesia menilai posisi cadangan devisa masih kuat karena mampu membiayai lebih dari lima bulan impor serta menjaga ketahanan sektor eksternal dan stabilitas makroekonomi.
  • Nilai tukar rupiah melemah hingga Rp18.187 per dolar AS, sementara pengamat menyoroti dampak defisit transaksi berjalan dan kebijakan fiskal besar terhadap kepercayaan investor.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta,FORTUNE Bank Indonesia (BI) melaporkan posisi cadangan devisa (cadev) Indonesia turun US$1,3 miliar dalam sebulan menjadi US$144,9 miliar atau setara Rp2.590,2 triliun pada akhir Mei 2026. Posisi ini terus anjlok dari posisi akhir April 2026 yang mencapai US$146,2 miliar dan Maret 2026 yang bernilai US$148,2 miliar.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI), Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan kondisi ini dipengaruhi oleh kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah sebagai respons terhadap tingginya ketidakpastian pasar keuangan global dan permintaan valuta asing musiman dari ranah domestik.

“Ini dipengaruhi penerbitan global bond pemerintah serta penerimaan pajak dan jasa, di tengah pembayaran utang luar negeri pemerintah dan kebijakan stabilisasi nilai tukar,” kata Ramdan melalui keterangan resmi di Jakarta, Senin (8/6).

Meski demikian, secara keseluruhan bank sentral memandang posisi cadangan devisa pada akhir Mei 2026 tetap kuat. Hal ini tecermin pada nilai cadev yang masih setara dengan pembiayaan 5,6 bulan impor atau 5,5 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Jumlah tersebut pun berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor. 

“Bank Indonesia menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan,” kata Ramdan.

Ke depan, Bank Indonesia terus berupaya memperkuat ketahanan eksternal guna menjaga stabilitas perekonomian untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Bank sentral meyakini ketahanan sektor eksternal tetap baik didukung oleh posisi cadangan devisa yang memadai serta aliran masuk modal asing sejalan dengan persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian nasional dan imbal hasil investasi yang tetap menarik.

Pada penutupan perdagangan hari ini (8/6), mata uang rupiah ditutup melemah 151 poin pada level Rp18.187/US$ dari penutupan sebelumnya pada level Rp18.036/US$. 

Pengamat ekonomi, mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai kondisi merosotnya cadev turut memengaruhi minat investor asing dan dikhawatirkan semakin membuat lemah nilai tukar. Di sisi lain, investor global juga dinilai masih belum mempercayai efektivitas kebijakan pemerintah.

“Kegelisahan pasar atas agenda pengeluaran besar-besaran Presiden Prabowo terhadap program politik yaitu Makan Bergizi Gratis dan Koperasi Desa Merah Putih, membuat defisit neraca transaksi berjalan melebar,” kata Ibrahim.

Ibrahim memprediksi nilai tukar rupiah terhadap dolar masih akan melemah dan berada dalam rentang Rp18.180/US$ hingga Rp18.230/US$. Ia menyebut pemerintah harus lebih selektif dalam penggunaan anggaran APBN termasuk menghitung ulang subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) untuk mengantisipasi peningkatan utang.

Editorial Team

Related Article