Stok BBM Langka, Shell: Kami Terus Koordinasi dengan Pemerintah

- Kelangkaan BBM Shell kembali terjadi di awal 2026, terutama untuk jenis gasoline.
- Shell Indonesia tetap berkoordinasi dengan pemerintah terkait permohonan rekomendasi impor BBM.
- Situasi ini terjadi karena Shell Indonesia belum mendapatkan rekomendasi impor BBM untuk periode 2026 dari Kementerian ESDM.
Jakarta, FORTUNE - Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) kembali melanda jaringan SPBU Shell pada bulan-bulan awal 2026. Sejumlah SPBU di Jakarta, Jawa Barat, hingga Jawa Tengah mengalami kekosongan, terutama untuk jenis gasoline.
Jika menengok informasi ketersedian pada laman resmi Shell Indonesia, saat ini hanya wilayah Jawa Timur yang masih memiliki stok untuk varian Shell Super—itu pun hanya tersedia di 15 SPBU.
Varian gasoline lainnya belum tersedia.
Menanggapi kondisi kelangkaan ini, Shell Indonesia menegaskan komitmennya untuk tetap berkoordinasi dengan pemerintah. President Director & Managing Director Mobility Shell Indonesia, Ingrid Siburian, mengatakan perusahaan terus mengikuti tata laksana yang berlaku terkait permohonan impor BBM.
“Shell Indonesia ingin menginformasikan bahwa kami terus berkoordinasi dengan pemerintah terkait permohonan rekomendasi impor BBM tahun 2026,” kata dia dalam keterangan tertulis yang dikutip Jumat (6/2).
Ingrid juga mengapresiasi dukungan pemerintah selama ini dalam pelaksanaan usaha penyediaan BBM di Indonesia. Ia menegaskan Shell berkomitmen menjaga kelancaran distribusi dan memenuhi kebutuhan energi masyarakat.
“Kami percaya ketersediaan produk BBM di jaringan SPBU Shell dapat memenuhi kebutuhan para pelanggan dan memberikan kontribusi bagi perekonomian negara,” katanya.
Situasi ini terjadi karena Shell Indonesia belum mendapatkan rekomendasi impor BBM untuk periode 2026 dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, membenarkan permohonan kuota impor Shell masih dalam proses penilaian.
“Masih dievaluasi,” ujarnya di Jakarta, Kamis (5/2).
Ia juga mengungkapkan stok BBM terakhir yang dimiliki Shell berasal dari pembelian base fuel dari PT Pertamina Patra Niaga pada Desember 2025 sebanyak 100.000 barel.
“Pemesanan ke Pertamina 2025 terakhir. Jadi, masih dievaluasi,” kata Laode.
Kelangkaan pasokan yang terjadi tahun ini bukanlah kejadian pertama. Sepanjang 2025, jaringan SPBU Shell telah beberapa kali mengalami kekosongan stok.
Puncaknya terjadi pada Agustus 2025 ketika pemerintah memutuskan hanya memberikan kuota impor 110 persen dari tahun sebelumnya.
Kebijakan ini membuat suplai BBM Shell tertekan selama berbulan-bulan hingga akhirnya pada akhir 2025 perusahaan mencapai kesepakatan untuk membeli base fuel dari Pertamina guna menstabilkan distribusi.















