Atasi Stagnasi Produksi, GAPKI Impor Serangga dan Bibit dari Tanzania

- Produksi kelapa sawit nasional stagnan dalam lima tahun terakhir.
- GAPKI mendatangkan serangga penyerbuk dan bibit tanaman sawit dari Tanzania untuk memulihkan produktivitas.
- Impor serangga penyerbuk dari Tanzania akan dilakukan pada Maret 2026.
Depok, FORTUNE - Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) mengambil langkah inkonvensional demi memutus stagnasi produksi sawit nasional yang telah berlangsung dalam lima tahun terakhir. Asosiasi menjalin kerja sama dengan Tanzania demi mendatangkan serangga penyerbuk dan bibit tanaman unggul mulai Maret 2026.
Aksi tersebut menyasar pemulihan produktivitas perkebunan di tengah keterbatasan pembukaan lahan baru. Kompartemen Media Relasi GAPKI, Mochamad Husni, menyatakan industri kini terbebani oleh usia tanaman yang sudah tua.
Berdasarkan data GAPKI, produksi minyak sawit nasional tertahan pada kisaran 52 juta hingga 54 juta ton per tahun dan diprediksi masih berlanjut hingga 2026.
“Banyak tanaman kita memasuki usia tua sehingga produktivitasnya menurun,” kata Husni dalam Workshop Jurnalis Program Biodiesel Sawit 2026 di Depok, Jawa Barat, Kamis (5/2).
Dia menjelaskan tantangan utama terletak pada siklus kedua perkebunan. Saat ini, mayoritas tanaman telah berusia di atas 25 tahun, sehingga penurunan hasil panen menjadi konsekuensi logis.
Sebagai solusi, GAPKI memperkuat kolaborasi dengan Tanzania, negara produsen potensial di Afrika Timur yang memiliki karakteristik lingkungan serupa meski luas kebunnya baru mencapai 13.736 hektare.
“Belum lama ini kami bekerja sama dengan Tanzania untuk mendatangkan serangga penyerbuk,” ujar Husni.
Inisiatif ini mencakup introduksi ulang tiga spesies serangga: Elaeidobius kamerunicus, Elaeidobius subvittatus, dan Elaeidobius plagiatus.
Tidak kurang dari 6.000 indukan—2.000 ekor per spesies—direncanakan masuk ke Indonesia secara bertahap selama dua tahun.
Proyek ini merupakan lanjutan dari inisiatif yang diluncurkan pada 2024 saat Konsorsium Elaeidobius dibentuk. Kongsi tersebut melibatkan Direktorat Jenderal Perkebunan, Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), GAPKI, PT Riset Perkebunan Nusantara, hingga Perbenihan Sawit Indonesia (PIPPSI).
Sementara itu, pengenalan ulang serangga penyerbuk sebenarnya pernah dilakukan di masa lalu, yakni sejak 1983.
“Kami harap Maret sudah mulai diterapkan di beberapa perkebunan sebagai jawaban atas tantangan produktivitas, terutama untuk mendukung implementasi B40 dan persiapan menuju B50,” kata Husni.
Selain faktor penyerbukan, GAPKI berupaya meningkatkan kualitas bahan tanam. Kerja sama dengan Tanzania juga mencakup pengadaan tanaman sawit untuk memperkuat program peremajaan kebun (replanting). Strategi ini penting dalam menggantikan populasi pohon tua dengan varietas unggul di masa depan.
“Kami juga bekerja sama mendatangkan tanaman-tanaman dari Tanzania,” ujar Husni.
Menurutnya, percepatan replanting sudah mulai dilakukan secara besar-besaran oleh perusahaan anggota GAPKI. Ini dilakukan sebagai investasi jangka panjang untuk memastikan keberlanjutan sektor hulu sawit nasional.
“Ini menjadi sangat penting, mengingat kita sudah masuk siklus kedua. Beberapa perusahaan, termasuk kami, sudah mengganti tanaman tua dengan tanaman baru,” katanya.















