Jakarta, FORTUNE – Pangsa pasar keuangan syariah di Indonesia masih berada pada level 11,24 persen per Juni 2026, kendati potensinya sangat besar seiring porsi populasi muslim yang mencapai lebih dari 87 persen.
Guna mengakselerasi penetrasi tersebut, pengamat dan pelaku industri menilai penguatan ekosistem digital serta optimalisasi skema pembayaran gaji (payroll) menjadi kunci utama mengubah potensi pasar menjadi penggunaan nyata.
Satu di antara potret pertumbuhan industri ini tecermin pada kinerja PT Bank BCA Syariah (BCA Syariah). Hingga Agustus 2026, total pembiayaan konsumer perseroan tumbuh 34,69 persen secara tahunan (year-on-year/YoY) menjadi Rp2,46 triliun.
Capaian ini ditopang oleh segmen Kredit Pemilikan Rumah (KPR) yang naik 24,17 persen (YoY) menjadi Rp1,78 triliun, pembiayaan kendaraan bermotor (KKB) yang naik 32,59 persen (YoY) menjadi Rp78 miliar, serta pembiayaan emas yang melonjak 81 persen (YoY) dengan nilai Rp598 miliar.
Kepala Satuan Kerja Bisnis Ritel dan Konsumer BCA Syariah, Bukit Mas Siahaan, mengatakan pembiayaan KPR di BCA Syariah didominasi oleh Milenial dengan porsi 71 persen. Sementara itu, pembiayaan emas didominasi oleh Gen Z yang kini mendekati porsi 20 persen.
“Kenapa emas menarik? Menurut kami, masyarakat Indonesia [tertarik] untuk memilih investasi jangka panjangnya. Di samping itu juga, memang ada yang dipengaruhi oleh komoditas,” kata Bukit dalam Media Gathering BCA Syariah di Jakarta, Rabu (30/9).
Bukit memandang penguatan keuangan syariah ke depan bukan sekadar memperbesar jumlah aset dan nasabah, melainkan membangun ekosistem digital yang praktis dan aman. BCA Syariah memfasilitasi kebutuhan ini melalui aplikasi mobile banking BSya, yang memungkinkan nasabah mengakses berbagai pembiayaan mulai dari KPR, kendaraan, hingga investasi emas dalam satu genggaman.
Di sisi lain, potensi besar keuangan syariah secara umum dinilai belum sepenuhnya terdorong optimal. Pangsa pasar bank syariah secara khusus baru mencatatkan 7,32 persen pada Juni 2026. Padahal, aktivitas transaksi masyarakat—mulai dari penerimaan gaji, penyimpanan dana, pembayaran tagihan, pengajuan pembiayaan, hingga investasi—berlangsung rutin tiap bulan.
Ekonom Syariah sekaligus Anggota Komite Pengembangan Keuangan Syariah Otoritas Jasa Keuangan (KPKS OJK), Dian Masyita, menyatakan industri keuangan syariah dituntut makin dekat dengan keseharian masyarakat, lebih mudah diakses, serta mampu membangun rasa aman.
Penguatan ekosistem payroll dinilai dapat menjadi pintu masuk strategis dalam memperluas jangkauan layanan.
“Payroll gaji ini biasanya menjadi kekuatan. Kementerian-kementerian biasanya apa-apa konvensional. Harusnya bisa dua opsi daftar gitu, silahkan masyarakat memilih dengan dua opsi bisa konvensional bisa syariah,” kata Dian.
