Jakarta, FORTUNE – PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) merencanakan rights issue tahap II dengan menerbitkan maksimal 6,8 miliar saham seri B bernilai total Rp3,4 triliun guna memperkuat struktur permodalan dan memenuhi ketentuan batas saham beredar (free float) dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Pengumuman aksi korporasi ini berlangsung di Jakarta pada Kamis (15/10).
Direktur Utama BSI, Anggoro Eko Cahyo, menjelaskan aksi korporasi ini bertujuan menambah permodalan perusahaan. Penambahan modal akan memacu ekspansi pembiayaan melalui struktur pendanaan yang sehat.
BSI menargetkan pertumbuhan pembiayaan sebesar 16 persen (YoY) dan pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar 15 persen pada akhir tahun.
“Kalau kami mau menjaga loan growth 16 persen terus, kami butuh pendanaan yang sehat. Sehingga dana ini tentunya nanti kami pakai juga untuk bisa supaya pendanaan sehat,” ujar Anggoro kepada media saat BSI International Expo di Jakarta, Kamis (15/10).
Penerbitan saham baru ini juga bertujuan memenuhi aturan tingkat free float saham minimal 15 persen dari OJK. Saat ini, rasio free float emiten bersandi BRIS tersebut berada pada posisi 9,91 persen.
"Harapannya nanti kita bisa sesuai dengan free float-nya, juga kita masuk ke, sejajar dengan LQ45 nanti," ujarnya.
BSI akan meminta persetujuan pemegang saham melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB). Rapat tersebut dijadwalkan pada Jumat, 6 November 2026.
Melalui penerbitan saham, kapasitas permodalan BSI diproyeksikan meningkat dari Rp51,07 triliun pada 2026 menjadi Rp64,41 triliun pada 2027.
Sebagai konteks, BSI membukukan laba bersih Rp5,30 triliun hingga Agustus 2026, atau tumbuh 10,07 persen (YoY).
Pencapaian ini ditopang oleh akselerasi penyaluran pembiayaan, efisiensi beban dana (cost of fund), kontribusi bisnis emas, dan pendapatan komisi (fee-based income).
Total pembiayaan BSI mencapai Rp344 triliun, atau tumbuh 16,21 persen (YoY) hingga Agustus 2026.
Dari sisi penghimpunan dana, DPK tumbuh 17,71 persen (YoY) menjadi Rp389 triliun. Porsi dana murah (Current Account Savings Account/CASA) mendominasi perolehan DPK dengan capaian Rp246 triliun. Pertumbuhan produk tabungan senilai Rp171 triliun menjadi penopang utama perolehan CASA tersebut.
