Singapore, FORTUNE — Singapura semakin agresif mengadopsi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) di sektor-sektor strategis. Terbaru, IBM mengumumkan dua kolaborasi terpisah dengan institusi pemerintah Singapura untuk memanfaatkan AI di bidang pertahanan dan kesehatan, sebagai bagian dari upaya memperkuat kesiapsiagaan nasional sekaligus meningkatkan kualitas layanan publik.
Di sektor pertahanan, Digital and Intelligence Service (DIS) Angkatan Bersenjata Singapura (SAF) bersama Defence Science and Technology Agency (DSTA) menjalin kerja sama dengan IBM untuk mengeksplorasi pemanfaatan komputasi kuantum (quantum computing) dalam perencanaan misi militer dan optimalisasi logistik.
Teknologi tersebut diharapkan mampu membantu menyelesaikan persoalan perencanaan operasi yang kompleks, mulai dari pengalokasian sumber daya, penyusunan jadwal, hingga distribusi logistik yang melibatkan banyak variabel secara bersamaan.
Kolaborasi ini juga menjadi langkah awal bagi DIS dan DSTA dalam membangun kapabilitas internal di bidang komputasi kuantum melalui pengembangan bersama para ahli IBM. Selain menguji penerapan teknologi tersebut pada kasus nyata, kerja sama ini bertujuan mempersiapkan Singapura menghadapi perkembangan teknologi kuantum di masa depan.
"Quantum computing memiliki potensi untuk mengubah cara menyelesaikan persoalan perencanaan misi yang kompleks. Melalui kolaborasi ini kami membangun keahlian, memperkuat kemitraan dengan industri, serta mengeksplorasi bagaimana teknologi baru dapat diterapkan untuk tantangan operasional di masa depan," ujar Commander SAF C4 and Digitalisation Command, Military Expert 7 Guo Jinghua dalam IBM THINK on Tour Singapore, Selasa (21/7).
Deputy Chief Executive (Information) DSTA, Gayle Chan, menambahkan bahwa nilai komputasi kuantum tidak hanya bergantung pada kemajuan teknologinya, tetapi juga pada kemampuan mengintegrasikannya ke dalam sistem operasional nyata.