Blackstone selama ini dikenal sebagai salah satu pemain besar di bisnis infrastruktur digital global. Perusahaan mengelola aset senilai lebih dari 1,3 triliun dolar AS.
Blackstone juga pernah mengakuisisi operator pusat data QTS pada 2021 dan membeli penyedia layanan komputasi AirTrunk pada 2024.
Ekspansi itu kini berlanjut ke sektor cloud AI melalui kemitraan strategis dengan Google. Blackstone melihat lonjakan penggunaan AI sebagai peluang besar karena kebutuhan komputasi dan kapasitas data center terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.
Presiden sekaligus COO Blackstone, Jon Gray mengatakan kerja sama dengan Google mencerminkan tingginya permintaan terhadap infrastruktur AI yang membutuhkan investasi dalam skala besar. Menurutnya, pengembangan AI modern tidak hanya bergantung pada software, tetapi juga kapasitas pusat data dan chip komputasi yang kuat.
Sejumlah analis memperkirakan pengeluaran perusahaan teknologi global untuk membangun infrastruktur AI, termasuk data center, dapat melampaui 700 miliar dolar AS pada 2026. Karena itu, Google dan Blackstone menargetkan usaha patungan mereka mampu menyediakan kapasitas komputasi hingga 500 megawatt pada 2027.
Perusahaan baru tersebut akan bersaing dengan pemain neocloud seperti CoreWeave dan Nebius Group NV, menawarkan layanan komputasi AI berbasis GPU Nvidia. Namun, Google dan Blackstone berusaha menghadirkan alternatif melalui penggunaan ekosistem TPU milik Google.
Apa tujuan kerja sama Google dan Blackstone? | Kerja sama Google dan Blackstone bertujuan membangun perusahaan layanan cloud AI. |
Apa itu layanan cloud AI? | Layanan cloud AI adalah layanan komputasi berbasis cloud untuk menjalankan, melatih, dan mengembangkan teknologi kecerdasan buatan tanpa membangun infrastruktur. |
Siapa CEO perusahaan baru hasil kerja sama Google dan Blackstone? | Google menunjuk Benjamin Treynor Sloss sebagai CEO perusahaan baru di bidang cloud AI tersebut. |