Jakarta, FORTUNE - Laporan IBM 2026 Cost of Data Breach 2026 menyoroti bahwa organisasi di ASEAN menghadapi rata-rata kerugian akibat kebocoran data sebesar US$4,12 juta pada 2026.
Secara rinci, IBM menemukan bahwa organisasi yang memanfaatkan AI dan otomatisasi keamanan secara luas mencatat rata-rata kerugian akibat kebocoran data yang lebih rendah, yakni sebesar US$3,66 juta sedangkan organisasi yang belum menggunakan teknologi AI mencatat kerugian US$4,86 juta.
Organisasi yang memanfaatkan AI mampu mengidentifikasi dan menangani insiden kebocoran data 123 hari lebih cepat.
“Dengan semakin luasnya pemanfaatan AI, serangan siber kini dapat dilakukan dengan lebih murah dan cepat. Kondisi ini membuat organisasi di seluruh ASEAN semakin sulit menginvestigasi kebocoran data, sementara semakin lama proses investigasi berlangsung, semakin besar pula dampak dan biaya yang harus ditanggung, di tengah meningkatnya risiko dan tekanan terhadap sektor infrastruktur vital,” ujar General Manager, IBM ASEAN, Catherine Lian, dalam keterangan resmi, Selasa (11/8).
Secara terperinci, organisasi di sektor jasa keuangan mencatat rata-rata kerugian akibat kebocoran data tertinggi di kawasan, yakni sebesar US$6,53 juta, disusul sektor industri sebesar US$5,99 juta dan sektor komunikasi sebesar US$4,28 juta.
Sementara itu, hampir tiga dari sepuluh organisasi di ASEAN yang mengalami insiden pelanggaran data akibat serangan siber melaporkan bahwa serangan tersebut memanfaatkan AI.
Di ASEAN, sebanyak 71 persen organisasi mengatakan akan meningkatkan investasi pada perangkat keamanan dan tata kelola setelah mengalami kebocoran data.
Di sisi lain, IBM menyoroti bahwa perlindungan enkripsi masih lemah di tengah ancaman kuantum. Hanya 29 persen organisasi yang mengatakan bahwa data sensitif telah dienkripsi, baik saat tersimpan maupun saat ditransmisikan, ketika kebocoran terjadi.
