Jakarta, FORTUNE— Sebanyak 49 persen organisasi atau perusahaan di kawasan Asia-Pasifik (APAC) belum mencapai target modernisasi teknologi. Keterlambatan tersebut berpotensi meningkatkan biaya jangka panjang, menghambat adopsi teknologi baru, hingga memperbesar risiko keamanan dan kepatuhan.
Temuan tersebut terungkap dalam laporan Modernization Report yang dirilis perusahaan layanan teknologi informasi global Kyndryl. Riset yang melibatkan 2.000 pemimpin bisnis dan teknologi di lima benua dan 12 industri. Riset tersebut menunjukkan, bahwa agenda modernisasi perusahaan semakin kompleks seiring meluasnya penggunaan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Dari organisasi yang mengalami penundaan proyek modernisasi di APAC, sebanyak 44 persen melaporkan peningkatan biaya jangka panjang. Selain itu, 43 persen mengaku mengalami keterlambatan dalam mengadopsi kapabilitas baru, sedangkan 38% menghadapi kerentanan baru dalam aspek keamanan atau kepatuhan.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa keterlambatan modernisasi bukan sekadar persoalan teknis. Ketertinggalan infrastruktur teknologi juga dapat memengaruhi efisiensi operasional, kemampuan berinovasi, dan daya saing perusahaan.
Wakil Presiden sekaligus Managing Director Kyndryl untuk ASEAN dan Korea, Megawaty Khie mengatakan perusahaan di kawasan Asia-Pasifik kini tidak lagi dihadapkan pada pilihan antara investasi AI atau penguatan infrastruktur teknologi.
“Organisasi membutuhkan keduanya. Seiring dengan semakin terdistribusinya lingkungan teknologi, tantangannya adalah menentukan ke mana harus berinvestasi, apa yang perlu dimodernisasi, serta bagaimana menjaga lingkungan tersebut agar tetap aman, tangguh, dan siap menghadapi masa depan,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Senin (2/11).
Dalam riset tersebut, peningkatan kinerja, keamanan, dan integrasi menjadi salah satu prioritas modernisasi bagi 36 persen organisasi di APAC. Persentase yang sama juga berlaku untuk peningkatan kelincahan, inovasi, dan skalabilitas bisnis, serta penguatan kendali, prediktabilitas, dan tata kelola.
Sementara itu, penerapan kapabilitas AI yang lebih canggih menjadi prioritas bagi 34 persen organisasi. Angka ini menunjukkan bahwa investasi AI berjalan beriringan dengan kebutuhan perusahaan untuk memperkuat fondasi teknologi dan meningkatkan efisiensi bisnis.
AI juga mulai menjadi pendorong investasi infrastruktur. Teknologi tersebut menjadi faktor utama peningkatan penggunaan mainframe dan komputasi edge, serta pendorong terbesar kedua untuk ekspansi software-as-a-service (SaaS) dan private cloud.
Di sisi lain, seluruh organisasi yang memiliki mainframe dalam riset tersebut berencana menerapkan AI pada platform itu.