Jakarta, FORTUNE – Pesanan turbin gas global mencapai rekor tertinggi pada kuartal II-2026 seiring meningkatnya kebutuhan pembangkit listrik. Lonjakan permintaan terutama didorong oleh ekspansi pusat data yang membutuhkan pasokan listrik besar untuk mendukung perkembangan kecerdasan buatan (AI).
Menurut JPMorgan, pesanan turbin gas baru pada kuartal II-2026 mencapai 38 gigawatt (GW), naik 29 persen dibandingkan kuartal sebelumnya. Jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, pertumbuhannya bahkan mencapai 71 persen, demikian dikutip Bloomberg, Kamis (13/8).
Dari tiga produsen turbin gas terbesar dunia, Siemens Energy mencatat pesanan baru paling tinggi pada kuartal II-2026, yakni 12,5 GW. General Electric menyusul dengan 11,3 GW, sedangkan Mitsubishi Power memperoleh pesanan sebesar 5,3 GW.
Amerika Serikat menjadi sumber sekitar separuh dari total pesanan turbin baru tersebut. JPMorgan menilai lonjakan permintaan listrik di AS berkaitan erat dengan pesatnya pembangunan pusat data.
Kebutuhan listrik AS diperkirakan tumbuh rata-rata sekitar 2 persen per tahun selama satu dekade mendatang. Kondisi ini membuat penambahan kapasitas pembangkit listrik menjadi semakin penting, terutama untuk menopang perkembangan AI dan kembalinya aktivitas manufaktur ke dalam negeri.
Lonjakan permintaan tersebut mulai menciptakan tekanan pada pasokan turbin gas. Produsen umumnya tidak menyimpan persediaan mesin dalam jumlah besar, sehingga peningkatan pesanan berujung pada kelangkaan dan waktu tunggu yang semakin panjang.
Data BloombergNEF menunjukkan waktu tunggu pembangunan pembangkit listrik berbasis gas dengan teknologi siklus gabungan atau combined-cycle mencapai lima tahun pada 2025. Angka tersebut meningkat dari sekitar 3,5 tahun pada 2023. Pada saat yang sama, biaya pembangunannya melonjak 49 persen.
Tekanan terhadap harga juga diperkirakan semakin besar. Wood Mackenzie sebelumnya memperkirakan harga turbin gas dapat melonjak 195 persen pada 2027 menjadi US$600 per kilowatt. Kenaikan tersebut dipicu ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan, terutama akibat meningkatnya kebutuhan elektrifikasi untuk mendukung pembangunan pusat data.
Kesenjangan antara permintaan dan kapasitas produksi juga terlihat dari data akhir 2025. Wood Mackenzie mencatat pesanan turbin gas global telah mencapai 110 GW, sementara kapasitas manufaktur dunia hanya berkisar 60-70 GW.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa industri turbin gas menghadapi tekanan pasokan ketika kebutuhan pembangkit justru meningkat. Konsultan tersebut memperkirakan pesanan turbin akan mencapai puncaknya pada 2026 karena pengembang berupaya mengamankan peralatan untuk pembangunan pembangkit gas dengan total kapasitas 63 GW sepanjang 2026-2030.
Lonjakan pesanan ini sekaligus memperlihatkan bagaimana pertumbuhan infrastruktur AI mulai memberikan dampak lebih luas terhadap rantai pasok energi. Kebutuhan pusat data tidak hanya mendorong investasi pada fasilitas komputasi, tetapi juga meningkatkan kebutuhan terhadap kapasitas pembangkit dan peralatan utama untuk memasok listriknya.
